DON’T BE MY STEPBROTHER – FINISH

JoohyunFFChangminFF

Judul                :  DON’T BE MY STEPBROTHER – FINISH

Main Cast        :  Seo Joo Hyun as Seohyun (SNSD)

Shim Changmin as Changmin ( TVXQ )

Author             : Riska Fasyah ( @riskafasyah )

Rate                 : General

Note                : Maaf lama ya T_____T

Mungkin aku sudah benar-benar jatuh tenggelam, seolah kehabisan oksigen yang membuatku tidak bisa bernafas, dadaku hanya terasa semakin sesak saat melihatnya

Previous Story

2013

Aku menutup pintu dengan dorongan yang sedikit berlebihan dan cukup menimbulkan bunyi ‘brak’ kencang saat pintu ini tertutup sempurna, memutar kunci dengan cepat dan seketika terdiam didalam kebisuanku. Mematung menatap pintu kayu dari pohon ek ini dengan pikiranku yang melayang mengingat hal apa yang baru kulakukan. Kedua mataku memanas dengan cepat dan saat aku mengedip bulir-bulir hangat ini menghancurkan pertahananku dan berefek pada kedua kakiku yang melemas seketika. Jari-jariku bergetar untuk menjangkau bibirku, menyentuh bibirku dengan sejuta rasa bersalah yang kurasakan sekarang. Apa yang kau lakukan Seo Joohyun ?!! Apa kau gila mencium kakakmu sendiri ?!

Dengan serangan menyakitkan itu kedua kakiku seolah tidak mampu lagi menopang tubuhku, aku terjatuh dan langsung terduduk dilantai. Rasa panas,sesak,debaran yang menyiksa seolah menjadi satu menusuk satu titik yang berada dipusat jantungku, benar-benar menyakitkan….

“a..apa yang ku..lakukan…” bisikku gemetar

Aku semakin tidak bisa menguasai air mataku sendiri yang dengan leluasanya menerobos pelupuk mataku dan membanjiri pipiku dengan air mata kesakitanku, jari-jariku perlahan turun untuk meremas dada kiriku dimana jantungku tertanam disana, berusaha menekan rasa menyakitkan itu setelah hampir menyentuh 7 tahun ini aku merasakan sakitnya karena perasaan terlarang yang kurasakan pada kakakku sendiri. “eott…ttokhae…” desisku

Kepalaku semakin tertunduk dalam dengan derai air mata yang semakin deras, kedua tanganku mengepal dan mulai memukul lantai dengan tenagaku yang tersisa, aku masih bisa mengingat wajahnya, aku bisa mengingat dengan jelas wajah Changmin saat aku mendorongnya yang membuat dekapan kami terlepas. Rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri saat melihat rasa sakit diwajahnya, gurat kecewa diwajahnya yang mungkin saja perasaan paling mengecewakan yang pernah ia rasakan.

Tapi…tidak ada yang bisa kulakukan…

Ini…perasaan kami….ini tidak boleh…tidak seharusnya kami saling jatuh cinta dalam arti yang berbeda mengingat status kami yang terikat sebagai saudara. Seharusnya aku sadar saat perasaan ini melandaku sejak tujuh tahun lalu, seharusnya aku bisa menguasai diriku yang tidak tahu diri ini. Aku terisak menyayat seolah merasakan tusukan pisau kecil disetiap pori-poriku. Bagaimana cara menghapusnya ? Bagaimana cara membuang perasaanku kepada Changmin jika yang kutahu mencintai seorang pria itu adalah hanya mencintainya. Tembok besar yang menjulang dihadapanku ini semakin kokoh berdiri menunjukkan keperkasaannya, mengejekku dengan palang melintang yang seolah bertuliskan ‘bersaudara’ dengan huruf merah besar.

Tidak ada yang bisa kulakukan…sisi hatiku yang lain memberikan perintah untuk aku bisa memberontak, menghancurkan tembok besar sialan itu dengan membuka pintu ini dan bergegas mengejar Changmin, mengatakan padanya semua yang kurasakan selama tujuh tahun ini, meyakinkannya jika aku tidak peduli dengan status saudara tiri yang kami sandang karena kupikir aku akan mati jika tidak bersamanya. Tapi … aku tidak berbeda seperti anak tikus yang lemah dan tidak mempunyai kekuatan apapun bahkan untuk berdiri memaksa jari-jariku memutar engsel, membuka pintu dan secepatnya mengejar Changmin. Tidak ada keberanian itu tidak ada kekuatan itu untuk menentang semuanya. Aku hanya akan terpuruk dengan perasaan ini…kupikir mati lebih baik sekarang

~**~

Sinar matahari telah menembus garis-garis gordenku yang berupa garis tipis kecil menyinari dengan malu-malu ruang segi empat kamarku, aku terjaga sejak sejam yang lalu dengan masih bertahan menatap kosong langit-langit kamarku. Tidak beranjak sedikitpun dari tempat tidurku, aku justru memiringkan tubuhku kearah kiri dan membiarkan air mata turun perlahan dari ujung mataku dan membasahi sarung bantalku. Menangis dalam diam dengan rasa sakit menyesakkan, masih belum pergi kah rasa sakit itu sejak semalam ? Atau justru lubangnya semakin membesar ?

Kupaksa untuk menutup mataku dan air mata itu justru semakin deras mengalir bersamaan dengan kilasan-kilasan masa lalu yang kembali menyapaku saat mataku masih bertahan untuk terpejam.

 

2008

Aku berjalan lebih dulu menuju halte bus yang ada diujung blok gang rumahku, sedikit terburu-buru sebenarnya saat mendengar suara Changmin yang memanggil namaku untuk menunggunya. Berusaha mengabaikannya aku semakin mempercepat langkahku berharap dalam secepat kilat halte bus itu sudah berada tepat didepan mataku

“ Yaa ! Kau tidak marah padaku kan Joohyun ?” sela Changmin setelah berhasil menyusul langkahku dan berjalan disebelahku. Tanpa menatapnya aku menjawab pendek dengan masih terus berjalan “ Tidak”

‘tidak’mu itu seperti bukan dalam arti yang sebenarnya “ celetuk Changmin, entah kenapa aku seperti mendengar nada geli darinya “ Aku kan sudah mengikuti keinginanmu untuk tidak ikut dengan ayahku, kenapa sikapmu justru jadi semakin aneh “ lanjut Changmin

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana prosesnya sampai kedua pipiku terbakar menjadi merah jambu, yang terjadi justru langkah-langkahku semakin cepat dan mulai memaki dalam hati kenapa jalan ini terasa lebih panjang untuk sampai diujungnya yang biasanya hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 menit untuk sampai dihalte bus yang ada diujung blok.

Kembali teringat sikapku yang mungkin bisa dikatakan lepas kendali, memeluk Changmin dan menangis konyol dipunggungnya, mengatakan dengan tidak tahu malu jika kakak tiriku itu adalah milikku dan memintanya untuk tidak ikut pergi bersama ayah kandungnya yang mengajaknya hijrah ke Jepang setelah Changmin lulus dari SMA. Apa yang ada diotakku semalam ? Tidak bisa menguasai dirinya karena ketakutan jika Changmin akan benar-benar pergi ?

“Aku sudah berjanji padamu aku tidak akan ikut dengan ayahku, sudah jangan marah lagi “ Changmin membujuk tanpa menyadari telingaku yang memerah dan untungnya sedikit tersamarkan dengan rambutku yang  kuurai menutup kedua sisi wajahku.

“ Aku tidak marah “ balasku sambil melirik cepat tanpa mengendurkan kecepatan langkahku

“ Lalu kenapa bersikap seperti ini ? Kau bahkan tidak mau menatapku sejak pagi ? “

“ Bukan seperti itu “

“ Apa kau masih belum yakin dengan ucapanku semalam, aku tidak pernah berjanji sebelumnya Joohyun, aku akan memegang janjiku padamu, jangan marah lagi “

“ Aku tidak marah oppa “ aku berhenti sesaat dan menatapnya menahan malu

“ Lalu ? “ Changmin bertanya dengan tampang tidak mengerti

“Itu..entahlah….tidak usah pedulikan aku…” jawabku akhirnya dan kembali berjalan. Namun tangan Changmin menahan pergelangan tanganku yang membuat langkahku berhenti, aku menoleh gugup kearahnya. Sesaat aku seakan terpaku menatapnya sebelum ia tersenyum tampak geli kearahku.

Tidak sempat menghindar, mataku hanya bisa terbelalak mendapati tingkah Changmin yang menyebrangkan sebelah tangannya dibahuku dan bersandar disana, berdiri menempel disebelahku sambil merangkul bahuku hangat

“ Aku senang….”

Mulutku terkunci

“ …aku senang kau memintaku untuk tetap tinggal…”

Jantungku berdetak cepat, mungkin akan copot sekarang juga

“…aku cukup kecewa saat aku bertanya ditelpon dan kau hanya mengatakan terserah padaku, tapi sepertinya kau tidak tahan ya untuk tidak mengaku ? “ dia terkekeh pelan, terdengar begitu merdu ditelingaku “ tenang saja~ kakakmu ini sekarang akan terus bersamamu, aku tidak suka bajuku harus basah karena menyerap air matamu “

Mengabaikan kedua mataku yang melotot kearahnya Changmin justru tersenyum lebar memamerkan deratan rapi giginya dan menatap kedepan “ Ayo kita jalan lagi~ busnya sebentar lagi pasti tiba “ ujarnya ceria dan tidak mengendorkan sedikitpun tangannya yang bergelayut membawa bahuku .

………………………………………………………………………………………………

2009

Changmin lulus dengan nilai terbaik disekolah kami, dia berjalan disebelahku tampak tidak peduli dengan cekikikan segerombolan gadis yang melewati kami dikoridor sekolah hendak meninggalkan sekolah.

“ Kapan upacara kelulusannya ? “ aku bertanya saat kami telah berjalan keluar dari gerbang sekolah menuju halte bus biasanya

“ Lusa, aku berniat tidak datang tapi ibu memaksa dan memutuskan kita berempat akan pergi “ jawab Changmin tidak berminat

“ Kupikir aku tidak bisa ikut “

“ Kenapa ? “ tanggapnya cepat “Seorang teman mengajakku pergi menemaninya untuk membeli sesuatu “

“Teman ? Teman siapa ? Sejak kapan kau punya teman ? “

Aku mengerucutkan bibirku tapi tidak berusaha membantahnya karena sebenarnya ucapan Changmin tidak sepenuhnya salah “ Hanya bercanda..” sahutnya geli saat menyadari ekpresi suramku

“ Jadi janji pergi dengan siapa ?”

“Teman sekelasku “ jawabku saat kami telah sampai dihalte dan hanya perlu menunggu sebentar saja karena bus yang biasa kami tumpangi telah tiba

“Batalkan saja kalau begitu..” Aku yang hendak membuka mulutku hendak memberikan pendapat harus menahannya kembali karena Changmin telah kembali berbicara “ Karena aku sudah memutuskan untuk mengikuti keinginan ibu, maka kau harus ikut juga keupacara kelulusanku, bagaimana mungkin kau lebih memilih menemani temanmu dari pada menghadiri upacara kelulusanku “

“Tapi aku sudah berjanji akan menemaninya oppa, dia sudah sering memintaku namun aku selalu menolaknya “ ujarku , namun Changmin menggeleng santai seolah tidak menerima alasan dalam bentuk apapun “Aku tidak akan hadir kalau kau juga tidak hadir” ujar Changmin dan kalimat itu sudah cukup membuatku menyerah, sepertinya aku harus meminta maaf pada temanku itu

………………………………………………………………………………………………

Changmin tidak mengalami kesulitan yang berarti memilih universitas mana yang akan ia pilih. Namanya telah terdaftar didua universitas ternama di Incheon, yang salah satunya adalah universitas dimana ayahku menjadi dosen disana. Namun pada akhirnya Changmin memilih universitas yang satunya, dia berfikir dengan tampang sok jika sangatlah tidak bijaksana memilih universitas yang sama dengan ayah tirinya bekerja. Aku, ayahku dan ibu tiriku hanya memandangnya bercampur malas dan bosan tapi hal itu tidak bisa menampik jika kami juga tersenyum geli karenanya.

Dua bulan pertama saat ia mulai masuk keuniversitas dan bergelar sebagai mahasiswa sepertinya cukup membuat Changmin sedikit..yah kalang kabut mungkin, dia hampir tidak memiliki waktu bermainnya seperti biasanya, sepak bola yang dicintainya pun terpaksa harus ditinggalkan karena kesibukan sebagai mahasiswa semester pertama, ibu menghiburnya karena mungkin saja Changmin belum terbiasa dengan jadwal barunya,

Bahkan intensitas pertemuanku dengannya entah kenapa terasa sedikit berkurang, karena aku hanya melihatnya saat malam ketika ia pulang kuliah saja. Aku sempat tertidur disofa ruang tengah karena menunggunya pulang, dan saat terbangun karena merasakan sesuatu aku sampai terlonjak saat melihatnya telah duduk disebelahku.

“Oppa ! “

Dia menoleh sambil tersenyum lebar kearahku, seperti menikmati sekali keterkejutanku “Kau tertidur dengan mulut terbuka tadi Joohyun, lihat ujung bibirmu ada liur itu”

Dengan cepat aku menggosok ujung kedua bibirku namun tidak merasakan ada yang basah disana, kikikkan lolos dari bibir Changmin sebelum akhirnya dia tampak menahannya sekuat tenaga menyadari mataku yang menyipit menatapnya

“ Hanya bercanda~ aku cukup tersanjung kau menungguku pulang” sahutnya berusaha menutupi cengirannya namun tidak berhasil karena semua giginya hampir terlihat semua sekarang

“ Karena kau sudah pulang aku akan kembali kekamarku “sahutku ketus dan bangkit dari dudukku, merasa rasa kantukku yang sebenarnya telah menghilang

“ Kenapa ? “ tanyanya dengan nada merengek dan sekarang telah ikut berjalan disebelahku, sekuat tenaga aku menahan urat leherku agar tidak menoleh melihat ekspresinya “ Aku kan baru pulang, temani aku dulu…hari ini benar-benar menyebalkan Joohyun “

Namun aku tetap mengabaikan dan kini telah sampai didepan pintu kamarnya, meraih engsel dan mendorong pintu itu namun tangan Changmin menahanku

“ Marah lagi ? “

“ Aku tidak marah, untuk apa “ sahutku yang akhirnya menatapnya . Aku mengalami dua perasaan sekaligus, senang namun sekaligus benci melihat senyumnya yang kapan saja melenakanku, aku berdeham kecil sadar agar tidak terpukau oleh wajahnya dan menatap canggung pintu kamarku sendiri “ Aku masih mengantuk oppa, aku hanya khawatir kau pulang terlambat maka aku menunggumu, sekarang kau kan sudah pulang, sekarang aku mau melanjutkan tidurku “ sedikit mendesah lega menemukan alasan yang cukup masuk akal.

“ Temani sebentar saja lagi, banyak yang ingin kuceritakan padamu “ bujuk Changmin

Aku menoleh sekilas kearahnya dan menggeleng mantap “ Aku harus berangkat pagi besok”

“Ayolah Seo Joohyun, kakakmu yang meminta”

“ aniyo oppa, aku masih mengantuk “ aku mendorong pintu kamarku dan hendak masuk namun langsung terhalang saat Changmin menghadangku dengan menaruh tangan panjangnya menghalangi pintu kamar agar aku tidak bisa masuk, cukup terkejut karena langsung membuat jarak kami berdekatan dan aku kembali terbius saat tidak bisa mengelak dari mata hitamnya

Perutku terasa dililit sesuatu dengan masih menatap tanpa berkedip mata hitamnya, kupikir waktu berhenti sesaat sampai aku kembali sadar dan langsung berjengit kecil lalu menyingkirkan tangannya dengan cepat dan memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari masuk kedalam kamarku, dan masih menggunakan kecepatan ekstra yang tersisa aku menutup pintu kamar dengan bunyi ‘brak’ kencang.

Aku bisa mendengar dengus bingung Changmin dibalik pintu “ kenapa dia ?” karena aku masih bersandar dipintu kamar dengan memegang dadaku, semakin kesini detak jantungku semakin sulit kukendalikan untuk berdetak normal .

………………………………………………………………………………………………

“ Namanya Sooyoung, dia teman sekelas Changmin dikampus, Changmin memberitahu eomma jika mereka ada tugas yang harus dikerjakan bersama “ aku menatap sekilas ibu tiriku yang sedang mengupas buah untuk disajikan kepada Changmin dan teman wanitanya itu. Rasa tidak menyenangkan menyerang perutku, aku tidak mengerti kenapa efeknya berakibat pada otot-otot yang biasanya bekerja untuk menghasilkan gurat senyum untuk kali ini yang terlukiskan diwajahku justru senyum kikuk yang aku yakin akan membuat wajahku terlihat aneh

Terdengar tawa menyenangkan dari arah ruang keluarga, rasa mulas diperutku semakin bertambah membayangkan wajah Changmin dan teman wanitanya itu yang sedang tertawa bersama-sama . Mungkin teman Changmin yang bernama Sooyoung itu jago membuat sebuah guraan yang sukses membuat Changmin tertawa sampai seperti itu, atau justru Changmin yang tengah bersemangat menceritakan kisah lucu pada temannya ? Aku tidak tahu tepatnya, tapi tawa mereka sangat mengangguku.

“ Joohyun~ah, bawakan minuman dan buah ini buat mereka ya? Eomma masih ada yang harus dikerjakan untuk menyiapkan makan malam “ Aku merasa menyesal aku tidak memiliki sifat terbiasa untuk membantah orang yang lebih tua dariku, jika aku mempunyai sifat itu saja untuk malam ini aku tidak akan mau disuruh untuk mengantarkan makanan pada dua orang yang tengah tertawa-tawa diruang santai itu. Sebenarnya mereka mengerjakan tugas atau hanya ingin bersenda gurau ?

Kubawa langkahku dengan sedikit menyeretnya, menunjukkan dengan jelas keenggananku untuk tetap menghampiri ruang santai. Namun pada akhirnya aku tetap sampai diruangan itu dan seketika tawa mereka berhenti. Apakah aku menganggu kebahagiaan mereka ? Sedikit sakit hati jujur saja saat pikiran itu melintas dikepalaku.

“Ehm..eomma menyuruhku untuk mengantarkan ini “ ujarku canggung. Aku menatap sekilas kearah Changmin lalu berpindah menatap Sooyoung. Bahuku jatuh lemas, aku tadi tidak begitu memperhatikan wajahnya, namun sekarang Sooyoung tengah tersenyum manis kearahku, terasa semakin dipojokkan aku tidak bisa mengenyahkan pikiranku jika hal yang mustahil jika Changmin tidak menyukai gadis ini. Dia adalah wanita yang pertama kali Changmin bawa kerumah .

“Hallo..” sapa Sooyoung ramah, aku mengangguk kecil kearahnya namun tidak bisa membalas senyumnya. Aku segera menaruh dua gelas yang berisikan jus dan potongan-potongan buah yang sudah dikupas. “ Jadi kau yang bernama Joohyun bukan ?”

Kepalaku kembali menoleh kearah Sooyoung, sedikit terkejut. Senyum masih terpeta diwajahnya yang akhirnya membuatku mengangguk sekali lagi.

“ Changmin pernah bercerita jika ia punya seorang adik perempuan “ aku dan Sooyoung sama-sama menoleh kearah Changmin yang tanpa perlu membalas menatap kami karena dia sedang sibuk memakan buah-buah segar itu. Tatapan kami kearahnya berbeda, Sooyoung menatap geli kearah Changmin sedangkan aku mengernyit kearah kakak laki-lakiku itu. Untuk apa dia bercerita kepada teman wanitanya ?

“ Kau benar-benar cantik, aku mungkin tidak akan percaya jika kau adiknya “ dia melirik Changmin lalu kembali menatapku “Kalian tidak mirip “ ia terkekeh kecil kali ini, membuatku memutar mataku untuk berfikir sesaat adakah sesuatu yang lucu

“ Changmin oppa tidak memberitahu eonni jika aku dan dia hanya bersaudara tiri ?”

Sesaat aku dibuat ngeri dengan kalimat yang keluar dari bibirku beberapa detik lalu, aku dan Sooyoung saling menatap selama beberapa detik dengan suasana yang bisa kugambarkan tidak..menyenangkan. Aku tersadar dengan kalimatku yang seharusnya tidak kuucapkan, namun segera terselamatkan saat Changmin akhirnya ikut bergabung “ ehmm..aku tidak ingat apakah aku pernah memberitahumu soal ini Sooyoung~ah “ ujar Changmin santai yang membuatku bersyukur dia mungkin tidak menyadari nada suaraku beberapa saat lalu.

Sooyoung sempat menatap kearah Changmin sesaat, jujur saja sulit kuartikan tatapan itu namun kepalanya kembali memutar kearahku, senyumnya kembali terpeta namun tidak sehangat sebelumnya. “ Begitu? Jadi kalian hanya bersaudara tiri ? “ ulang Sooyoung yang dibalas anggukan kompak dariku dan Changmin “ Tapi tetap saja namanya bersaudara bukan ? “ tambahnya ringan sambil mengangkat bahunya. Aku maupun Changmin tidak menanggapi ucapannya karena aku langsung memilih angkat kaki dari ruang santai ini tanpa ingin melihat bagaimana ekspresi kakak tiriku. Kembali kedapur aku memilih untuk membantu ibu tiriku menyiapkan makan malam, mengambil alih tugas mengiris sayuran yang akan dimasukkan kedalam sup, aku menyadari tatapan bingung ibuku saat aku mengiris sayuran-sayuran ini dengan tenaga berlebih yang menimbulkan suara tidak menyenangkan dari pertemuan pisau dan papannya. Membayangkan sayuran ini sebagai salah satu bagian tubuh teman wanita Changmin sepertinya sedikit membantuku menyalurkan rasa kesal yang menyerangku.

Satu jam akhirnya makan malam telah siap , kurasakan sentuhan dibahuku dan menoleh untuk menatap ibu tiriku “ Ajak kakakmu dan temannya makan malam bersama kita ya ? “ pintanya . Mungkin efek rasa kesal yang sesungguhnya sedikit konyol masih tersisa didiriku, aku memberenggut kearah ibuku yang sejujurnya sangat jarang kulakukan didepannya. Aku menggeleng mantap dan membuatnya cukup terkejut melihat reaksiku .

“ Aku tidak lapar , eomma saja yang memberitahu mereka . Aku ingin kekamar “ jawabku dan langsung memutar tubuhku .

Langkahku kubawa menuju kamar dan samar-samar mendengar suara Changmin yang telah berada didapur menyebut namaku “ kemana Joohyun ? Dia tidak ikut makan ?”

………………………………………………………………………………………………

“ Jadi ini rumahmu Joohyun ? “ Aku mengangguk ringan kearah pria yang berjalan disebelahku— Minho, dia teman sekelasku, sebenarnya satu-satunya teman yang mau berteman tulus denganku disekolah. Semenjak kelulusan Changmin bisa dibayangkan seperti apa aku kembali diperlakukan dikelas. Rombongan gadis-gadis yang suka sekali terkikik jika melihat Changmin dan selalu bermuka dua didepanku karena mereka berharap aku bisa menyampaikan pesan atau bahkan hadiah dari mereka untuk kakak tiriku itu tidak ada lagi karena tentu saja Changmin yang sudah tidak ada disekolah itu. Mereka kembali menatapku sinis seolah aku adalah kotoran yang terselip diujung sepatu mereka.

“Rumah yang nyaman “ lanjut Minho “ Terima kasih”

Aku berhenti beberapa meter dari depan pintu rumahku yang tertutup. Terlihat sepatu hak tinggi yang ada diluar teras dan seketika memberitahuku jika wanita itu kembali datang kemari. “ Ada apa? “ tanya Minho yang menyadari langkahku terhenti . Menguasai diriku dengan cepat kugelengkan kepalaku pelan dan menghembuskan nafas samar. Aku kembali berjalan dengan Minho yang menyeimbangi langkahku.

“Ayo masuk, mungkin ibu dan ayahku belum pulang jadi aku tidak bisa memperkenalkan kau dengan mereka. Tapi lebih baik kau menunggu didalam dari pada diluar “

“ Tidak apa-apa, kau kan hanya perlu berganti pakaian saja. Aku tunggu diteras saja “

Sejenak aku ragu apakah aku harus tetap memaksa Minho masuk untuk tetap menunjukkan sikap sopan santun, namun saat Minho memberi isyarat menggerakkan dagunya agar aku segera masuk kedalam rumah akhirnya aku hanya mengangkat bahu dan berbalik untuk masuk kedalam rumah.

Sesuai dugaanku sebelumnya jika Sooyoung memang berada dirumah ini, aku melihatnya yang sedang serius menatap laptop yang ada dipangkuannya. Tidak mau menarik perhatian gadis itu aku kembali melanjutkan langkahku hendak menuju kekamar untuk segera berganti pakaian.

“Oh kau sudah pulang “ langkahku terhenti, mau tak mau aku memutar tubuhku dan menatap Sooyoung. Sejujurnya aku tidak suka dengan kalimatnya yang seolah-olah dialah yang tinggal dirumah ini.

“ Ne “ sahutku pelan “ Bagaimana sekolahmu?” tanyanya. “ Tidak buruk “

“ Duduklah disini , aku ingin berbincang-bincang denganmu sebentar Joohyun~ah”

Aku mengernyit sesaat namun menggeleng pelan yang langsung menghilangkan senyum diwajahnya “Aku hanya pulang untuk berganti pakaian, aku akan pergi lagi . Sama seperti eonni dan Changmin oppa, ada tugas sekolah yang harus dikerjakan “ jawabku berusaha tetap terdengar sopan

Aku tidak perlu menunggu jawaban dari Sooyoung karena aku kembali berjalan dan langsung menuju kamar, melewati dapur dan mendapati Changmin yang tampaknya tengah sibuk membuat sesuatu. Berusaha tidak memperdulikannya aku memacu langkahku agar lebih cepat “ oh kau sudah pulang Joohyun, bisakah kau…”

Aku tidak lagi mendengarkan ucapan Changmin karena aku telah keburu menutup pintu kamarku. Berganti pakaian dengan cepat lalu kembali meraih tasku dan menyelampirkannya kebahu. Aku keluar dari kamar dan langsung berjalan cepat untuk keluar rumah menghampiri Minho yang menunggu diluar.

“ Mau kemana ?” Changmin menghentikan langkahku dan langsung menyebrangi ruangan menghampiriku

“ Aku ada tugas sekolah dan akan mengerjakannya bersama seorang teman” sahutku tanpa menatapnya

“ Teman ? Teman siapa ? “

“Teman sekelas”

“ Kenapa tidak mengerjakan dirumah saja? Kau biasanya selalu mengerjakan tugas sekolahmu dirumah”

“ Aku menemukan kesulitan pada tugas ini, temanku bisa membantu”

“ Aku juga bisa membantumu, biasanya kan aku yang selalu membantu tugas sekolahmu jika ada yang tidak kau mengerti”

“ Aku ingin berusaha sendiri”

“Tapi jika kau meminta bantuan teman, itu tidak berusaha sendiri namanya”

Akhirnya aku menatap Changmin, membuang nafas sesaat untuk mengendalikan rasa tidak sabarku. “ Aku hanya ingin mengerjakan tugasku bersama temanku oppa, itu cukup ?”

“ Tidak biasanya kau seperti ini, mana temanmu ?” tanya Changmin akhirnya

“ Dia menunggu didepan”

“ Aku akan melihatnya” balas Changmin sambil berjalan membawa langkahnya menuju pintu depan, aku mengikutinya dari belakang dengan langkah yang kuhentakkan menghadapi sikapnya “Dia laki-laki atau perempuan ?” tanya Changmin sambil menoleh kearah belakang sambil tangannya memegang engsel pintu lalu menariknya

“ Laki-laki “ jawabku pelan dan bersamaan dengan pintu yang telah dibuka oleh Changmin.

Minho memutar tubuhnya, sesaat Minho dan Changmin saling bertatapan, aku menyelinap keluar dan langsung berdiri disebelah Minho.

“ Dia temanku oppa , Minho “ ujarku menyadarkan kebisuan sesaat mereka. Minho sadar lebih dulu dan langsung membungkuk sopan kearah Changmin .

“ Annyeonghaseo, Minho imnida . Saya teman sekelas Joohyun “ papar Minho sopan. Butuh waktu beberapa saat untuk Changmin membalas sopan Minho dengan menganggukkan kepalanya pelan. “ Jadi…kau akan pergi dengan temanmu ini Joohyun ? “ Changmin bertanya

“ Ne, kami harus mengerjakan tugas kami”

“Kerjakan saja dirumah ini, Minho..” Changmin beralih kearah Minho yang cukup membuat temanku itu sedikit terkejut “..kerjakan saja tugasnya dirumah, aku juga sering membawa temanku untuk mengerjakan tugas kuliah bersama dirumah, mungkin jika kalian mengalami kesulitan aku bisa membantu “

Kurasakan Minho melirik kearahku, aku memejamkan kedua mataku sesaat sebelum akhirnya menatap tajam kearah kakak tiriku itu

“ Kami akan mengerjakan ditempat lain oppa, dan kami juga akan mampir kesebuah toko buku untuk membeli buku bacaan untuk materi kami ..lagi pula…”

“ Apa ?”

“ Tidak ada apa-apa, aku hanya tidak ingin mengerjakannya dirumah ini “ sahutku

“ Tapi biasanya kau…”

“ Aku akan pulang sedikit terlambat, aku sudah memberitahu appa dan eomma, mereka tidak akan khawatir , ehm..sampai jumpa lagi nanti “ ucapku akhirnya dan langsung memutar tubuhku meninggalkan teras rumah , kudengar Minho pamit secara sopan kepada Changmin lalu menyusul langkahku dibelakang, saat kami sudah berjalan pelan menyusuri gang untuk sampai diujung blok agar bisa naik sebuah bus, barulah Minho kembali membuka suaranya “ Apakah ada masalah ? Sesuatu terjadi antara kau dan Changmin sunbae? “

“ Aniyo~ tidak ada apa-apa “ sahutku suram yang aku sendiri sadar jika Minho pun tahu sebenarnya sesuatu telah terjadi, tapi bukan antara aku dan Changmin, melainkan sesuatu yang aneh terjadi pada diriku.

………………………………………………………………………………………………

Rasa muakku memuncak, aku memasukkan beberapa buku sekolahku secara asal kedalam tas lalu memakai tas itu dibahuku. Aku keluar dari kamar dan berjalan cepat untuk menuju pintu depan, suara tawa Changmin dan tentu saja Sooyoung yang semakin sering berkunjung kerumah ini dengan alasan tugas dan tugas membuat sebuah gelombang tidak menyenangkan diperutku mulai bergolak. Alasan aku mengapa tidak menyukainya bukan hanya karena kedekatannya dengan Changmin, tapi dia juga sudah terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya terhadapku, dia bersikap ketus padaku jika tidak ada Changmin didekat kami.

“ Mau kemana ? Ini sudah sore Joohyun “ tahan Changmin, aku melirik kearah mereka berdua, berusaha tidak terlihat garang walaupun aku bisa merasakan cuping hidungkan yang menghembuskan nafas kasar.

“ Oppa terlalu berisik, aku hanya ingin ketoko buku untuk mencari bahan untuk tugasku, aku tidak bisa berkonsentrasi dirumah “ jawabku asal

“ Nde ?”

“ Aku pergi “

“ Tapi….tunggu dulu “

Aku sedikit berlari untuk bisa lepas dari Changmin, membuka pintu dengan tergesa dan memilih berlari menyebrangi halaman. “ Joohyun tunggu sebentar “ panggil Changmin kuat. Aku sedikit terkejut saat seseorang memutar tubuhku, langsung menghadapi Changmin yang menatapku dengan tatapan tidak sabarnya. “ Kau itu sebenarnya kenapa ?” tanyanya akhirnya. “ Tidak ada apa-apa”

“ Ini tidak seperti dirimu, kau marah padaku? Tapi…” sesaat terlihat raut kebingungan diwajahnya “..tapi kenapa? “ tanyanya akhirnya

“ Tidak apa-apa “ sahutku yang terdengar lebih kaku

“ Joohyun~ah, kau mulai menjauh dariku akhir-akhir ini, aku kenapa? “

“ Tidak ada apa-apa oppa, kembalilah kedalam… “ aku melirik kearah pintu depan rumahku dan melihat Sooyoung berdiri diambang pintu dan menatap kami berdua dengan tatapan tidak sukanya seperti jika ia melihatku akhir-akhir ini “…kau meninggalkan Sooyoung eonni begitu saja, itu ..itu tidak sopan “ Changmin menoleh sesaat kebelakang untuk menatap rumah kami namun kembali menatapku “ Aku akan membantumu untuk mengerjakan tugas sekolahmu, aku berani jamin tidak akan ada yang salah, kau kan tahu aku…”

Akhirnya aku menyingkirkan tangan Changmin yang sedari tadi menahan lenganku, tindakanku cukup membuatnya terkejut karena aku sama sekali jarang bersikap sedikit kasar kepadanya “ Aku kan sudah pernah bilang aku akan mulai mengerjakan tugas sekolahku sendiri “ jawabku cepat tanpa menatapnya “ Aku akan kembali setelah tugasku selesai, lagi pula aku hanya ketoko buku, tidak perlu khawatir”

Kali ini Changmin tidak lagi menahanku saat aku telah kembali berjalan menyusuri gang rumah kami. Aku tidak tahu kenapa rasa panas menyerang mataku secara tiba-tiba, hanya hal konyol seperti tadi saja aku bisa jadi gadis cengeng seperti sekarang, kubuat diriku berlari agar lebih cepat sampai diujung blok dan saat itulah aku tidak mampu lagi untuk tidak menangis dalam lariku.

………………………………………………………………………………………………

Aku membawa langkahku dengan tidak bersemangat, menyeret kaki ini agar bisa sampai dirumahku. Cahaya putih menenangkan menyebrangi halaman sampai kedepan jalanan kecil didepan rumahku. Saat tinggal beberapa meter untuk sampai disana, aku baru menyadari adanya bayangan hitam yang berdiri dipintu pagar rumahku. Aku berdiri sesaat ditempatku, mencari jarak aman ketika pikiran negatif menghampiriku, bagaimana jika itu penguntit ? Kali ini dengan lebih berani aku melangkah beberapa langkah kedepan, bayang-bayang hitam itu mulai terlihat jelas saat cahaya bulan menimpanya.

Dia menoleh kearahku, tubuhnya langsung berdiri tegak dan menghadap kearahku.

“ Oppa? “ gumamku pelan. Aku yakin jika seseorang yang berdiri itu adalah Changmin, untuk apa dia diluar seperti itu? Kami sama-sama berjalan saling menghampiri, aku bahkan bisa merasakan jika langkahnya ia percepat.

“ Kau itu kemana saja ?” semburnya saat aku sudah berada dihadapannya, dibawah cahaya lampu jalanan aku bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas, gurat kekhawatiran terpeta jelas dimatanya, perasaan hangat mengaliri perutku, rasa senang menyapapaku saat bisa merasakan jelas kekhawatirannya. “ Aku kan sudah bilang aku ketoko buku”

“Sampai semalam ini? “

“ Aku sudah menghubungi appa jika aku mampir kesuatu tempat dulu” sahutku berusaha menghindar menatap mata hitam pekatnya

“Tapi kau tidak menjelaskan kau akan mampir kemana dulu” sambar Changmin

“ Appa tidak masalah aku pulang sedikit terlambat” ujarku mencoba membela diri

“ Tapi dia terus berjalan mondar mandir diruang tengah, apa itu artinya dia tidak khawatir ?”

Aku mematung sesaat, bola mataku membesar merasakan rasa bersalah “Appa bisa memintaku pulang jika mau”

“Dia tidak melakukannya karena tahu kau jarang sekali keluar, dia pikir kau mulai mendapatkan teman disekolah dan tidak ingin merusak kesenanganmu, tapi tetap saja hal itu membuatnya khawatir..dan bukan appa saja tapi eomma juga “

Aku kali ini menatap Changmin gusar, jadi semua kekhawatirannya bukan untukku melainkan untuk eomma dan appa yang mencemaskanku ? “ oh tentu saja hanya mereka berdua yang akan mengkhawatirkanku “ sahutku tajam “ aku akan menjelaskan pada mereka jika tadi aku bertemu dengan Minho, aku sudah pernah memberitahu mereka jika Minho teman yang baik, dan jika lain kali aku pergi bersama Minho lagi mereka tidak akan khawatir”

“Jadi kau bersama Minho tadi ?” Changmin menatapku serius “Ne..” jawabku sambil melemparkan pandanganku kearah lain

“ Kau bersamanya sampai malam apa itu tidak keterlaluan, apa yang ada dipikirannya sampai mengajakmu pergi hingga malam seperti ini, bahkan dia tidak mengantarkanmu pulang “

Aku menoleh kasar agar bisa menatap Changmin, sedikit merasa tidak terima dengan ucapannya. “Dia hendak mengantarku sampai aku aman masuk kedalam rumah, tapi bus yang kami tumpangi adalah bus terakhir, kubiarkan dia tetap dibus yang berhenti sebentar diblok depan karena jika ia mengantarku sampai kerumah dia tidak akan bisa pulang oppa”

Changmin hendak membuka mulutnya lagi namun aku telah lebih dulu bersuara “Lagi pula apa perbedaanya? Aku hanya mengerjakan tugasku bersamanya, sama seperti kau dan Sooyoung eonni yang mengerjakan tugas sampai malam”

“Itu hal yang berbeda Joohyun~ah, aku selalu mengajaknya untuk mengerjakan dirumah, tidak diluar sepertimu”

Aku menatapnya berang kali ini, baru kali ini aku memiliki keinginan untuk memukul wajah kakak tiriku itu, membuat hidungnya patah untuk menyalurkan kemarahanku

“ Ya tentu saja kau ingin terus mengajaknya kerumah, agar dia bisa dekat dengan eomma bukan? Bisa mengambil hati eomma, karena nanti kau akan mengenalkannya sebagai pacarmu “ sulutku

“Mwo ?”

“ Aku tidak peduli dengan tujuan oppa, kita sama-sama mengerjakan tugas bukan ? Lalu apa masalahnya ? Aku tidak pernah mempermasalahkan jika kau mengerjakan tugas bersama Sooyoung eonni meskipun tidak kukatakan aku tidak menyukainya …”

Aku terpaku untuk beberapa saat, merasa hampa selama beberapa detik untuk mencerna dengan baik kalimatku sendiri, rasa takut menghampiriku seketika saat aku sadar atas apa yang telah kuucapkan. Bodoh ! Apa yang ada dipikiranku sampai mengucapkan kalimat seperti itu ?! Hal yang sama terjadi pada ekspresi Changmin, rautnya tampak terlihat kaku sesaat sebelum akhirnya kedua alisnya menyatu dan berkerut. Dia membuka mulutnya namun tidak ada yang keluar dari bibirnya dan akhirnya memilih untuk kembali menutup mulutnya.

“ Aku hanya asal bicara “ ujarku pelan tidak berani menatapnya “ lebih baik kita masuk, aku harus menemui appa agar dia tidak lagi khawatir “ kuputuskan untuk berjalan melewatinya, melirik Changmin yang kini menampilkan mimik wajah yang seolah sedang meneliti sesuatu dariku. Dalam beberapa detik saat mencuri pandang kearahnya, kusadari kedua matanya sedikit melebar, pikiran panik melandaku merasa seolah-olah rahasiaku akan terbongkar saat ini juga

Aku berjengit kuat sekali saat Changmin menahan lenganku, membuatku berhenti mendadak dengan lonjakan mengejutkan. “ Aku paham sekarang “ ujarnya pelan dan terkesan seperti berbisik justru. Dia menatapku tajam sekarang, aku mungkin terlihat seperti anak ayam yang siap diterkam oleh induk elang. “ Joohyun, kau…”

Jantungku berdetak sangat kencang sampai aku membayangkan aku perlu menguburkan diri agar Changmin tidak bisa mendengar suara detak jantungku yang siap pecah “ ini terdengar lucu jika kau benar-benar sedang cemburu”

Copot ! Pasti jantungku benar-benar telah copot sekarang, rasa hangat menjalari kedua pipiku dengan sangat cepat, bahkan udara dingin seolah tidak terasa karena wajahku yang menghangat ini “Aku..tidak..”

Sebuah cengiran akhirnya muncul diwajah Changmin, senyum pria ini semakin lebar yang sekarang sudah menampilkan deretan gigi-gigi kecilnya yang rapi. Menguasai diriku dengan cepat, kuhempaskan tangannya dari lenganku dan sedikit mundur dari posisi awalku “ Sudah kukatakan tidak “ terdengar tidak meyakinkan, pasti.

“ Kenapa tidak kau katakan jika kau tidak suka aku bersama Sooyoung, kau tidak perlu bersikap ketus padaku juga bukan? Aku benar-benar tidak tahu jika kau cem..”

“ Sudah kukatakan aku tidak cemburu oppa !” potongku merasa marah, tentu saja !

“ Aku memang mengatakan aku tidak menyukainya tapi itu bukan berarti aku tidak menyukai jika kau bersamanya, itu urusanmu “ aku tidak mau kalah telak tapi Changmin terlihat untuk tidak tertawa geli menghadapi reaksiku “ Kau tidak pandai berbohong “ ujarnya sambil mengangkat bahunya ringan, senyumnya masih saja belum menghilang dari wajahnya.

“ Aku tidak peduli apa yang oppa pikirkan, itu urusan oppa jika oppa memiliki hubungan dengan Sooyoung eonni, kalian terlihat sangat dekat jadi siapapun yang melihatnya pasti…”

Changmin kembali meraih tanganku, kali ini menarikku sampai aku berdiri tepat dihadapannya, membuat semua ucapanku tertahan ditenggorokkan dan merasa kaku karena kedua mata kami bertemu “Kau harus peduli”

Waktu mungkin kembali berhenti sekarang atau dunia mungkin hanya berisikan aku dan dia. Aku mengejang ditempatku, mencoba menahan rasa nyeri yang menyerang dadaku “Kau jelas sedang cemburu Joohyun~ah” ujarnya tersenyum, rasa marah kembali menyerangku, Changminpun sadar akan hal itu, namun ia meraih lagi lenganku yang lainnya dan membuatku tetap bertahan ditempatku, menjaga tidak memutuskan kontak mata kami “ Sooyoung memang menarik…” kali ini rasa nyeri yang sangat tidak menyenangkan yang menyerang dadaku “ ..tapi dia hanya teman yang baik..”

Bahuku mulai menyantai tanpa kusadari “ yah kuakui jika selera humornya bagus, aku merasa cocok berteman dengannya dan aku bersumpah hanya itu saja “

Changmin mengamati perubahan ekspresiku, aku tidak tahu apa efeknya tapi kurasakan beberapa kupu-kupu diperutku kembali terbang dengan bersemangat. “ Tapi Sooyoung eonni jelas menyukai oppa” aku memaki diriku yang semakin bodoh tidak bisa menyaring ucapanku sendiri “Kami saling menyukai tentu saja, kami kan berteman dengan baik “ sahut Changmin santai “ Sama seperti kau yang menyukai Minho, kau pasti menyukainya sampai mau menghabiskan waktu sampai malam bersamanya “ kali ini terjadi perubahan pada nada suaranya, Changmin melepaskan tangannya pada lenganku dan aku tidak suka akibat yang ditimbulkan dari hal itu, seperti kehilangan sesuatu.

“ Dia hanya teman yang baik” ucapku pelan “ Minho teman yang baik”

“Tapi Minho terlihat menyukaimu lebih dari sekedar teman “ ujar Changmin sedikit…sengit

Aku mengangkat bahu bimbang “ entahlah..”

Kami terdiam beberapa saat dan tidak saling menatap, saat akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam rumah Changmin kembali menahanku.

“ Kau tahu Joohyun siapa yang kusukai “ ujarnya tersenyum lembut, aku benar-benar menyukai senyum Changmin lebih dari apapun yang pernah kujumpai didunia ini

“ Siapa? “

“ Sudah kukatakan sejak lama bukan? Saat aku dipukuli teman SMA ku dan kau mengobati lukaku aku sudah bilang aku menyukai siapa “

Pelan, namja ini menarik tanganku, membuat tubuhku terbawa lembut kearahnya, dia menangkapku pelan dan membuatku tenggelam hangat didalam pelukannya. Wangi khas tubuhnya menyeruak dihidungku, tidak ada wangi parfum yang ada hanya wangi tubuh Changmin.

“ Aku sudah bilang kalau aku menyukaimu” Dia melingkarkan kedua tangannya dipunggungku “ kau benar-benar sangat manis Joohyun”

………………………………………………………………………………………………………………………………

2013

Aku terduduk cepat diatas tempat tidurku, membawaku kembali kemasa sekarang dan mendapati diriku telah banjir air mata. Kutarik kedua lututku sampai menyentuh perutku dan memeluknya. Benar-benar menyakitkan, aku tidak tahu akan mengalami rasa sesakit ini. Jauh lebih menyakitkan saat aku mengalami patah kaki saat mengikuti orientasi siswa saat memasuki universitas dulu yang sempat kuanggap sebagai hari paling sial dalam hidupku.

Semua kenangan berpusar didepan mataku, mengirimkan gelombang fatamorgana seolah aku kembali kemasa itu dan merasakan manisnya. Changmin menyukaiku saat itu, aku selalu berfikir apakah kata ‘menyukai’ yang ia ucapkan dalam arti yang berbeda? Kalian paham maksudku ! Bukan rasa suka antara seorang kakak dan adik tentu saja, tapi antara seorang pria dan wanita . Butuh beberapa tahun sampai aku benar-benar yakin jika perasaanku waktu itu benar, kami saling mencintai sejak lama, benar-benar lama dan bukan hanya aku yang menderita selama ini, tapi…tapi dia juga.

Terus terlena dengan rasa sakit ini, aku tersadar karena merasakan getar ponselku yang berada disebelahku, sebuah pesan singkat telah dikirim padaku, aku membukanya tanpa ragu dan tahu jika pesan ini dari ibu tiriku

Appa masuk rumah sakit semalam, pulanglah ke Incheon secepatnya. Dia ingin bertemu denganmu . Eomma baru saja bisa memberitahumu sekarang karena menunggu appamu sadar terlebih dahulu

Aku terlonjak cepat, segera bangkit dari tempat tidurku dan langsung menghubungi ibuku. Aku berbicara panik ditelpon saat mendengar suara muram ibu tiriku disebrang, dia tidak bisa menceritakan detilnya seperti apa hanya memintaku untuk segera datang.

Sesaat aku dibuat lupa oleh rasa sakitku sebelumnya dan tergantikan dengan perasaan panik tentang keadaan ayahku sekarang

~**~

Aku berlari dengan tergesa-gesa keluar dari lift dan kembali berlari menyusuri koridor rumah sakit. Diujung koridor didepan sebuah pintu kamar bangsal rumah sakit bisa kulihat sosok yang kukenal, menjulang bersandar ditembok koridor rumah sakit tampak sedang merenung, lariku melambat beriringan dengan kesadaranku mengenali orang itu.

Changmin…rasa nyeri yang telah kukenal kembali menyerangku . Tidak ada alasan untuk aku tidak menghampirinya, ruangan yang berada tepat disebelahnya adalah kamar tempat ayahku ditempatkan, dia pasti juga baru saja menemui ayahku.

Suara langkah kakiku menggema lembut dikoridor ini, memang hanya ada kami berdua dan aku yang berjalan semakin mendekati ujung koridor untuk menjangkaunya. Sepertinya suara langkahku menyadarkan Changmin, dia menoleh pelan dan mata itu kembali beradu pandang denganku. Aku menahan dorongan untuk berlari cepat kearahnya, berlari untuk melemparkan diriku kedalam pelukannya. Kukuasai diriku dan menekan keinginan itu kebelakang kepalaku. Saat aku telah benar-benar sampai didepan ruangan ayahku, kedua mata kami masih saling memandang, saling memancarkan rasa sakit yang sama didalamnya. Aku menatapnya lebih lama sebelum akhirnya menatap pintu kamar rumah sakit yang ditempati ayahku.

“Appa didalam, dia sudah sadar sejak tadi pagi. Dia sedang menunggumu Joohyun” ujar Changmin muram, entah harus mengangguk atau bersikap seperti apa, kami berdua masih tenggelam dalam pekatnya mata masing-masing, pintu ruangan yang terbukalah yang memutuskan kontak mata kami saat ibu tiriku keluar dari ruangan itu.

“ Kau sudah tiba Joohyun~ah?” suara ibu tiriku penuh kerinduan, dia menyongsongku lalu mendekapku hangat “Ne eomma”

“ Appa didalam, dia sedang menunggumu, kau bisa masuk dan menemuinya” ujarnya tercekat saat melepas pelukannya. Aku mengangguk kecil saat ibu tiriku menuntunku untuk masuk kedalam bangsal dengan dinding yang bercat putih cerah. Dia meninggalkanku diruangan itu untuk kembali keluar dan menutup pintunya pelan, kulihat ayahku yang terbaring lemah disatu-satunya ranjang yang ada diruangan ini, beberapa alat bantu pernafasan dan monitor yang digunakan untuk mengetahui jalannya detak jantung ayahku terpasang dengan mengeluarkan bunyi pelan.

Aku menghampirinya dengan cepat, air mataku tumpah saat aku telah berada disamping ranjangnya, ayahku menyadari kehadiranku karena ia langsung menjulurkan tangannya yang lemah agar bisa kugenggam. “ A..appa..” panggilku pelan, suaraku tercekat menyakitkan. Selama ini ayahku tidak pernah sakit sampai separah ini, serangan jantung menyerangnya mendadak tadi malam, aku belum bertanya apapun lagi pada ibu tiriku kenapa ayahku bisa sampai terkena serangan jantung.

“J..joohyun~ah..” panggil ayahku serak “Ne appa..”

“ appa senang masih bisa melihatmu “ usaha ayahku mengucapkan satu kalimat pendek itu “ Appa itu bicara apa ?” aku terisak, seharusnya aku bisa menguasai diri untuk tidak menangis, menumpahkan air mata seperti ini menjadikanku gadis lemah yang justru akan membuat ayah khawatir.

“ Joohyun…” ayahku membuang nafas berat, lalu menghirup lagi oksigen yang disalurkan melalui hidungnya “ …lakukan apapun yang kau inginkan, kau sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang ingin kau lakukan dan akan membuat dirimu bahagia “

“ Aku sudah bahagia appa “ ucapku pelan dan aku sendiri tahu jika itu bohong.

“..ini bukan pesan terakhir, tentu saja bukan… appa akan sehat dan melihatmu bahagia dan menikah dengan orang yang mencintaimu dan kau cintai tentu saja ..” dia tersenyum tipis seolah berusaha menunjukkan wajah berguraunya kearahku, air mataku kembali jatuh namun cepat-cepat kugunakan punggung tanganku untuk menghapusnya

“…kau bahagia appa juga bahagia, itu saja yang perlu kau ketahui Joohyun…dan…berhentilah berkorban demi orang lain, pikirkan kebahagianmu sekarang “

Ayahku semakin meremas lebih erat telapak tanganku yang berada dalam genggamannya “..kau harus berjanji akan bahagia ne ?”

Yang kulakukan adalah mengangguk meyakinkan kearahnya, tidak ada satu katapun yang meluncur dari bibirku namun kepalaku mengangguk meyakinkannya. Kuusap punggung tangannya dengan tanganku yang lainnya lalu mengecupnya pelan, aku tahu aku tidak akan sanggup menghianati ayahku, bagaimana mungkin aku sempat memikirkan untuk tetap mencintai Changmin dan merobohkan tali saudara antara kami hanya untuk mewujudkan cintaku padanya, kebahagiaan ayahku lah yang seharusnya menjadi kebahagiaanku.

………………………………………………………………………………………………

“ Eomma harus makan” aku menatap sedih ibu tiriku yang berada disebrang meja kecil cafee rumah sakit yang kami datangi untuk sarapan pagi, kulihat ibu tiriku yang hanya menatap makanannya tanpa menyentuhnya sama sekali “ Appa tidak ingin jika eomma sakit juga, makanlah sedikit “ gumamku sambil mendorong piring makanannya lebih kearahnya

“Eomma..jangan seperti ini, eomma membuatku khawatir juga “ lanjutku

Akhirnya ibu tiriku mendongakkan wajahnya, dia tersenyum lemah kearahku sambil menggeleng kecil “ eomma tidak lapar Joohyun, tenang saja eomma baik-baik saja”

“ Aniyo~ eomma harus makan, jangan membuat diri eomma sakit, appa akan sembuh secepatnya aku yakin “

Salah satu tangan ibu tiriku menjangkau tanganku yang berada diatas meja, dia menggenggam lembut tanganku yang balas kuremas telapak tangannya. “ Maaf Joohyun…”

Aku tersenyum kecil kearahnya dan kembali menggeleng kecil “ untuk apa minta maaf, ayo kita harus makan lagi, eomma terlihat..”

“ Aku harus mengatakannya padamu, maaf untuk semuanya…”

“ Tidak ada yang harus meminta maaf..” Kali ini ibu tiriku yang menggeleng lebih mantap “ aku..aku yang harus minta maaf padamu, aku..pasti merebut semuanya darimu…”

Aku cukup terkejut dengan ucapannya, kedua alisku berkerut bertanya apa maksud ucapan ibu tiriku “ayahmu, kebahagiaanmu dan…Changmin…” aku berjengit kecil dikursiku, sesaat aku merasakan getar ditanganku namun masih mampu menguasai diriku “ Apa yang eomma bicarakan ? “ aku mencoba membalas dengan sedikit tersenyum kikuk “ Tidak ada yang eomma rebut dariku, sejak dulu aku senang eomma menjadi ibuku, aku bahagia….tidak ada yang direbut dariku “

“ Eomma semakin merasa bersalah terhadapmu Joohyun, eomma tahu kau tidak bahagia, eomma tahu ini semua karena eomma…”

Merasa sedikit kesal dengan sikap menyalahkan dirinya sendiri akhirnya aku melepaskan genggaman kami “ Tidak ada yang eomma rebut, itu cukup! Eomma tidak salah apapun, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini ?”

“ Kau dan Changmin saling mencintai…”

Jiwaku seperti ditarik paksa dari tubuhku, kaku dan dingin menyerangku seketika, aku menatap ibuku dengan keterkejutan yang tidak bisa kukuasai “ terlalu jelas…sangat jelas bahkan tidak bisa ditutupi dengan apapun, kalian berdua saling mencintai…”

Bibirku gemetar,kucoba untuk menggigitnya namun aku justru mengejang dikursiku.

“ Kalian tidak bisa membohongi mataku dan…mata ayahmu Joohyun, kami bisa membacanya “

Mungkin lebih baik aku mati sekarang juga

“ Berkali-kali aku dan ayahmu mendapati sikap kalian yang berbeda, semakin lama bukan seperti seorang kakak dan adik, kalian saling membutuhkan lebih dari itu, terlalu jauh dari sekedar hubungan persaudaraan, kami…aku dan ayahmu bisa merasakannya…”

Kali ini aku yang menunduk, mungkin sikapku kini justru menunjukkan semua yang diucapkan ibu tiriku adalah kebenaran, aku terlalu takut untuk mengangkat wajahku agar bisa menatapnya, mengatakan padanya jika hal itu tidak benar, aku seharusnya meyakinnya jika aku dan Changmin tidak mungkin memiliki perasaan terlarang seperti itu, tapi……

“…Joohyun~ah, kau tahu kenapa aku memintamu untuk melanjutkan sekolahmu di Seoul ?” ibu tiriku bertanya tercekat “ karena itu keputusan aku dan ayahmu, kami berfikir masih akan mampu meredam perasaan kalian berdua dengan memisahkan kalian “

Tubuhku semakin menegang dikursiku, selama bertahun-tahun aku bertanya-tanya kenapa ayah dan ibu tiriku begitu aku ingin melanjutkan kuliahku di Seoul yang sebenarnya aku telah diterima diuniversitas yang sama dengan Changmin, dan tentu saja sama baiknya dengan universitas yang ada di Seoul yang menerimaku. Aku tidak bisa menolak saat ayah memintaku melanjutkan belajarku disana, dia ingin aku menjadi seorang guru seperti mendiang ibuku. Aku mempercayai alasan itu, sangat mempercayainya waktu itu. Tapi…apa ini ?

“ hal bodoh itu yang terpikirkan oleh kami saat itu Joohyun, hal begitu bodoh yang hanya bisa dipikirkan oleh orang tua egois seperti kami “ bisik ibuku semakin tercekat, kali ini aku mulai mengangkat wajahku, air mata tumpah diwajah ibu tiriku, hidungnya menjadi merah jambu pucat akibat tangisnya. “ kami..kami tidak ingin kalian semakin tidak bisa mengontrol perasaan kalian satu sama lain, jelas tidak boleh mengingat aku dan ayahmu telah terikat dalam ikatan pernikahan, perasaan kalian tidak boleh..sangat tidak boleh…menurut kami saat itu…”

Aku merasa seolah telingaku terpasang untuk lebih berfungsi dengan sebenar-benarnya, menyerap semua apa yang ucapkan oleh ibu tiriku seolah berusaha tidak ada satu katapun yang tidak kudengar darinya . “ …sekali lagi Joohyun, sekali lagi kami orang tua yang bersikap egois…saat itu aku terlalu takut, aku takut menyadari sikap Changmin yang semakin tidak bisa ia kontrol saat bersamamu, semakin tidak bisa melepaskan matanya darimu, aku benar-benar takut Joohyun…”

“Sejak kapan…sejak kapan eomma menyadarinya ?” aku bertanya dengan suara berbisik

“ Saat melihatmu menunggu Changmin hingga tertidur disofa, dia telah sampai dan duduk disebelahmu saat kau masih terlelap, menarik kepalamu untuk bersandar dibahunya, dan anak itu….Changmin menciummu “

Nafasku tercekat, satu lagi kenyataan yang tidak kuketahui terasa seperti memukul kepalaku dengan palu besar yang menyakitkan. “ menurutku hal itu sudah benar-benar diluar batas, Changmin tidak bisa menahan dirinya…dan eomma…”

Jantungku berdetak kencang menantikan lanjutan kalimatnya “….eomma memintanya berhenti, eomma mengajaknya bicara secara pribadi…eomma pikir eomma berhasil, karena beberapa hari setelahnya dia membawa salah satu teman wanitanya, eomma benar-benar mengira jika Changmin pasti mendengar ucapan eomma, dia pasti mencoba untuk menganggapmu kembali seperti adik karena memang harus seperti itulah hubungan kalian…”

Air mataku yang kali ini jatuh, aku membayangkan dengan rasa sesak bagaimana perasaan Changmin saat itu, apakah dia marah saat eomma memintanya untuk tidak menaruh perasaan padaku, apakah dia menerimanya begitu saja ? Kenapa aku tidak bisa meraba apapun darinya saat itu ?

“ ..tapi eomma menyadari satu hal lagi…satu hal lagi yang semakin membuat eomma takut hanya membayangkannya saja…” Aku bisa menebak hal apa itu, rasa bersalahku memuncak bersamaan dengan air mataku yang mengalir deras. “ …kau cemburu..kau cemburu Changmin membawa teman wanitanya saat itu bukan? Terbaca dengan jelas jika kau juga menyukai Changmin, kalian memiliki perasaan yang sama “

Kesunyian menyakitkan melingkupi kursi kami, hanya isakan pelan dari kedua bibir kami yang terdengar samar didalam caffee yang masih sepi pengunjung dipagi hari ini. “ Aku terlalu takut membayangkan hubungan kalian akan semakin jauh, ayahmu juga menyadarinya…kami …kami tidak bisa membiyarkannya Joohyun…tidak mungkin kami membiyarkannya ..”

Aku tahu itu, aku mengerti. Memang hal itulah yang seharusnya mereka lakukan. Aku dan Changminlah yang salah, atau mungkin hanya aku? Bagaimana mungkin aku menaruh perasaanku pada kakak tiriku dan mungkin kerena kelalaianku sendiri dia menyadari perasaanku.

“ ..aku tidak ingin…aku tidak ingin harus mengalah dari kalian..aku tidak ingin harus melepaskan ayahmu karena aku tahu satu-satunya cara agar kalian bisa tetap bersama dalam suatu hubungan diluar kakak adik adalah aku tidak lagi memiliki hubungan dengan ayahmu, aku..”

“ Eomma…aniya eomma..itu tidak benar ! Aku dan Changmin oppa melakukan kesalahan, tapi kami tidak lagi memiliki perasaan itu, sudah kami buang sejak lama perasaan kami, eomma jangan lanjutkan ini aku mohon….ini semua salahku “ aku ikut menangis bersamanya, kembali meraih telapak tangannya untuk menggenggamnya erat. “ Mianhae…” isakku tercekat

“ ..sudah eomma katakan Joohyun, kami orang tua egois…sangat egois sampai mengorbankan kebahagiaan anak-anak kami…” aku menggeleng putus asa, bagaimana caranya untuk meyakinkan mereka jika aku tidak apa-apa, rasa sakit yang kutanggung bertahun-tahun ini sudah terbiasa untukku, dan kedua orang tuaku justru merasakan rasa bersalah karena itu.

“ Appamu sudah memutuskan sebelum kau tiba di Incheon kemarin sore, dia…dia akan menceraikan eomma jika keadaannya lebih membaik “

“ Andwe !! “ aku berteriak tanpa sadar, beberapa pengunjung caffee yang baru saja tiba serta beberapa pelayan terpaksa menoleh terkejut kearah kursi kami, aku menunduk meminta maaf kearah mereka singkat lalu kembali menatap ngeri kearah ibu tiriku

“ Aniyo eomma, apa yang eomma bicarakan ? Tidak ada hal seperti itu , tidak ada perceraian !! “ aku berujar panik namun tetap berusaha menekan

“ Appa tidak bisa melakukan hal itu, kalian tidak seharusnya melakukan hal itu demi…” aku benar-benar tidak mampu untuk melanjutkan kalimatku, aku merasa sangat bersalah dan putus asa, inikah akibatnya ? Inikah akibat dari kelancanganku karena mencintai kakak tiriku sendiri ? Apa yang kulakukan ?! Sadarkah aku jika aku yang sekarang menghancurkan kebahagian kedua orang tuaku ?!!

“ A..aku akan bicara pada appa, appa tidak bisa melakukan hal itu, eomma tidak boleh membiyarkannya…atau…atau aku yang tidak akan membiyarkannya .” lanjutku “ ..aku minta maaf, ini semua salahku, aku yang mulai menyukai Changmin oppa lebih dulu, dia..dia pasti hanya menanggapiku “

“ Tapi perasaan itu telah lama hilang eomma, kami tidak lagi memiliki perasaan itu…aku dan Changmin oppa tidak lagi saling..”

“..kau tidak bisa berbohong..” sesaat aku terasa dilemparkan kemasa lalu, seseorang pernah mengatakan hal ini juga kepadaku “ ..Changmin mungkin lebih pintar berbohong, tapi namja itu tidak mau menutupi perasaannya yang sebenarnya padamu, dia sudah terlalu lelah menahan rasa sakitnya Joohyun, bertahun-tahun tidak ada yang bisa dilakukannya, jika dia mau mungkin dia akan membawamu lari, tapi dia tidak melakukan hal itu karena masih sangat menghargai ayahmu, hanya satu yang ingin dia lakukan…tidak lagi menutupi perasaannya atau menganggapmu sebagai adiknya..”

“..aku akan bicara dengannya, eomma tidak perlu khawatir, tidak akan ada perceraian antara appa dan eomma, aku akan bicara dengan Changmin oppa..”

“ tidak Joohyun~ah, dia benar…kamilah yang terlalu egois”

“Berhenti bicara seperti itu !!” gertakku . Perasaan rasa bersalah mengaliri nadiku karena membentak ibu tiriku, ingin sekali aku bangkit dan memeluk tubuhnya untuk meminta maaf, tapi yang kulakukan justru bangkit berdiri dari kursi yang kutempati “..aku akan menemui Changmin oppa, kami perlu bicara…eomma…kumohon makanlah sesuatu dulu…”

“ ..nanti aku akan menemui eomma lagi..”

Kutinggalkan meja kami dan berjalan cepat meninggalkan caffee rumah sakit ini.

~**~

“ Kita harus bicara “ kalimat itu langsung saja kuucapkan saat Changmin baru saja keluar dari kamar ayahku, kuintip lewat sebuah kaca kecil yang ada dipintu dan melihat ayahku  masih tampak beristirahat. Sesaat aku kembali mengenal tatapan lembut Changmin yang dulu sering ia lakukan jika tengah menatapku “ aku sudah menanti kapan kau akan mengajakku bicara “ ujarnya pelan

“ Aku harus menaruh barang-barang yang kubawa dirumah kita “ sudah lama aku tidak menyebut rumah yang tidak lagi aku tinggali itu sebagai rumah, rumah yang menenangkan tempat banyak kenangan aku dan kakakku “ kita bisa bicara setelah aku menaruh barang-barangku, aku mungkin akan tinggal beberapa hari disini sampai appa benar-benar sembuh “

“ Tidak masalah, ayo pergi . Suster akan menjaga appa sebentar “

Changmin berjalan melewatiku lebih dulu, sikapnya terasa dingin bagiku. Aku menatap punggungnya penuh kerinduan sebelum akhirnya berjalan menyusulnya

~**~

Changmin menghentikan mobilnya tepat didepan pagar tembok rumah kami yang ada di Incheon. Tidak ada pergerakan dari kami berdua untuk melepaskan sabuk pengaman kami agar bisa beranjak keluar dari mobil. Kebisuan ini seperti menjadi jam pasir didetik-detik terakhir sebelum akhirnya aku yang membuka suaraku lebih dulu

“ Eomma….eomma memberitahuku jika….”

“ Biarkan saja “ potong Changmin. Aku menoleh cepat untuk menatap sisi wajah Changmin yang menatap lurus keluar kaca depan mobilnya “ Mwo? “

“ Orang tua kita tahu oppa…mereka tahu tentang….” aku menelan ludahku dengan berat, beberapa jam yang telah lewat sudah sangat jelas aku telah mengakui perasaanku padanya “…tentang perasaanku…” akhirnya kugunakan kalimat itu

“ Perasaanku juga “ tambah Changmin, rasa sakit dan bahagia melebur menjadi satu sehingga aku tidak tahu mana yang lebih dominan kurasakan

“ Ini tidak boleh oppa…appa berniat menceraikan eomma, mereka merasa bersalah kepada kita, hal itu tidak seharusnya terjadi, mana mungkin mereka…”

“ Sudah kubilang biarkan saja “ kali ini Changmin memutar kepalanya untuk balas menatapku, sesaat aku melihat api dimata hitamnya, sebuah harapan baru pada dirinya. Aku mulai mengerti, tapi mana mungkin Changmin menyetujui rencana konyol itu ?!

Aku menggeleng keras, mataku terasa memanas dengan cepat yang langsung mengakibatkan memandang buram kakak tiriku.

“ Oppa..mana mungkin kita membiyarkan mereka, mereka berkorban demi kita…mereka saling mencintai oppa…bagaimana mungkin kita tega memisahkan mereka dengan cara seperti itu …” aku mulai terisak

“ Lalu bagaimana dengan kita ?! “ Changmin membalasku cepat, rasa frustasinya muncul siap untuk meledak “ Bagaimana dengan kita Joohyun ? Telah berapa lama kita berkorban ? Selama apa kita berdua merasakan rasa sakit karena perasaan kita ? Kupikir aku mungkin akan mati jika aku tidak mengungkapkan perasaanku padamu malam itu “ ujarnya menyakitkan. Air mataku benar-benar jatuh sekarang, ucapannya menyadarkanku akan rasa sakitku yang mungkin telah menusukku disetiap tahun yang kulewati melalui setiap pori-pori kulitku.

“ ..kita memang tidak boleh…memang tidak seharusnya kita…”

“ kata-kata itu sudah tidak berguna lagi “ Changmin memotong tajam

“ Oppa dengar, bagaimana mungkin kita tega membiyarkan mereka bercerai hanya demi kita, hanya supaya kita bisa bersama….aku tidak bisa membayangkan aku akan melakukan hal jahat seperti itu pada mereka…aku tidak bisa…”

“ Dan kau akan lebih suka melihatku mati “

Aku bergidik ngeri mendengarkan ucapan Changmin barusan, rasa takut yang teramat sangat menyerangku, menyesakkan dadaku hanya karena sebuah kalimat pendek yang diucapkan olehnya . “ Oppa..jangan bicara seperti itu…”

Changmin mengabaikanku lalu dengan kasar membuka sabuk pengamannya, dia berjalan cepat keluar dari mobil dan segera kususul, tidak kupedulikan lagi diriku yang telah banjir air mata, yang ada dipikiranku hanyalah mengejarnya dan menahan namja itu. Aku berhasil meraih tangannya dan memaksanya untuk balik menatapku

“ Jangan bicara seperti itu kumohon “ aku menangis sambil menahan lengannya ditelapak tanganku “ aku hanya tidak bisa memilih cara seperti itu oppa, eomma dan appa tidak seharusnya melakukan hal itu demi kita..aku..kau…kita tahu seperti apa mereka saling mencintai “

“ Sama halnya dengan kita Joohyun, sama halnya dengan perasaan kita “ Changmin memotong tegas sekali lagi, aku mengerang putus asa didalam hati

“ berbeda..mereka bertemu lebih dulu…mereka merasakan perasaan mereka lebih dulu…mereka saling mencintai lebih dulu “ aku menjawab keras kepala

“ tapi kita juga saling mencintai ! “ Changmin tampak tidak sabar karena ia mulai membentakku

“ Tidak oppa…mereka…”

“ Kau tidak mencintaiku ? “ potongnya cepat, kedua matanya memerah dengan rasa sakit meyayat yang tergambar jelas

“ ani…tentu saja…tentu saja aku mencintaimu..” jawabku lemah dan gemetar, kalah dengan semua argumen yang ada dikepalaku

“ itu lebih dari cukup “ bisiknya dan setelah itu semua pikiranku melayang keluar dari kepalaku, Changmin telah menjangkau wajahku dengan kedua telapak hangat tangannya, menjangkau bibirku dengan bibirnya dan mulai mengecupku dengan lembut. Tubuhku adalah bagian paling munafik yang kumiliki, respon yang kuberikan adalah mencengkram lembut kemeja Changmin dan menarik namja itu lebih menempel pada tubuhku. Kami terbuai, kami terlena dengan gerakan lembut bibir kami yang bertemu, air mataku kembali meleleh saat aku tahu aku memang benar-benar telah menjadi orang terjahat yang ada dimuka bumi ini.

Changmin melepaskan kontak bibir kami sesaat, menyandarkan dahinya didahiku lalu menyatukan kedua hidung kami, nafas hangatnya yang menyegarkan menabrak wajahku “ aku tidak ingin melepasmu lagi Joohyun, tidak akan kulepaskan lagi “ bisiknya lalu kembali menciumku dengan perasaan yang jauh lebih menguap dari sebelumnya. Aku semakin menangis dalam ciuman kami, perasaan bersalah menyerangku dari berbagai sisi tapi tubuhku masih bersikap keras kepala dengan mempertahankan ciumanku dengannya.

~**~

3 hari setelahnya aku benar-benar berfikir ingin mati, ingin menghilang dari dunia ini, ingin ikut terkubur didalam makam basah ayahku yang masih bertabur bunga diatasnya.

Ayahku…satu-satunya seseorang yang memiliki darah yang sama denganku akhirnya meninggalkanku untuk selamanya, keadaannya memburuk sehari sebelumnya dan terpaksa membuatnya mendapatkan penangan darurat. Penyempitan pembuluh darah dijantung yang membuatnya tidak bisa lagi memompa darah keseluruh tubuh menjadi penyebab kematiannya. Aku terkurung didalam kamar masa remajaku dan meringkuk diatas ranjangku, memeluk lututku dengan membuat tubuhku melingkar untuk menyembunyikan wajahku .

Air mata yang tidak pernah habis sudah membuat dadaku serasa tertekan menyesakkan, sekilas peristiwa didetik-detik hembusan nafas terakhirnya menari dipelupuk mataku ‘kau harus berbahagia Joohyun, berbahagia..hanya itu…

Bagaimana mungkin aku bisa berbahagia ? Bagaimana mungkin aku membuat diriku bahagia jika rasa bersalahku telah memenjarakanku seperti ini? Apakah aku menghianati ayahku ? Apakah ia sebenarnya kecewa terhadapku ??

Aku semakin mempererat memeluk lututku dan bergetar karena tangisku “ appa mianhae…”

~**~

Aku memutuskan untuk kembali ke Seoul seminggu setelah kepergian ayahku, butuh waktu lebih lama untuk ibu tiriku memulihkan keadaannya untuk mempercayai jika suaminya telah tiada. Aku merahasiakan kepulanganku ke Seoul dari Changmin karena namja itu sudah dua hari ini melakukan proyek untuk perusahaannya. Aku menyadari jika Changmin memberikanku waktu, dia mengerti rasa sakitku akan kehilangan appa, tidak pernah membahas apapun tentang perasaan kami selama beberapa hari .

“ Kau benar-benar harus pulang hari ini ?” tanya ibu tiriku pelan saat dia membantuku memasukkan beberapa pakaianku kedalam tas “ Ne “ jawabku sambil tersenyum muram kearahnya

“ Tidak bisakah tinggal disini beberapa hari lagi ?” tanyanya penuh harap, aku meliriknya yang tidak menatapku dan berusaha berkonsentrasi melakukan perkerjaan itu.

“ Murid-muridku sudah kutinggalkan cukup lama eomma “ jawabku sedih

“ Jika melihatmu, eomma merasa dia masih disini “

Aku mematung ditempatku, aku tahu siapa yang dimaksud oleh ibuku. Kutatap lagi dirinya yang kini tampak gemetar duduk dipinggir ranjangku, aku menyebrangi ruangan dan langsung menghampirinya, menariknya pelan masuk kedalam pelukanku. “ Appa akan selalu ada disini eomma, selalu…appa akan selalu menjaga eomma..”

“ Menjaga kau juga”

“ Menjaga kita semua..”

“ Joohyun, eomma…”

Aku mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang dan menantinya sabar untuk melanjutkan kalimatnya “ …eomma benar-benar minta maaf untuk semuanya, jika kau tidak ingin kembali lagi kerumah ini itu hak mu, eomma dan appamu tentu sudah bukan suami istri lagi sekarang, kau…kau tentu bebas untuk tidak mau menganggapku sebagai …”

“ Mau seperti apa keadaannya, eomma adalah eommaku “ potongku tegas . Aku melepaskan pelukannya dan memilih untuk berdiri dengan lututku dilantai dan menatap sayang ibu tiriku yang masih terduduk dipinggir tempat tidurku “..tidak ada bekas ibu didunia ini, walaupun hanya ibu tiri tetap saja eomma adalah ibuku , aku tidak mau berfikir aku akan memanggil eomma dengan sebutan lain “ ujarku bersungguh-sungguh, air matanya kembali terjatuh dan dengan lembut aku menghapusnya dengan jari-jari tanganku “ ..tetap dirumah ini, jaga rumah ini eomma. Semua kenangan keluarga kita ada disini, aku akan sering pulang kemari untuk menjenguk eomma..aku berjanji…”

“ Joohyun…”

“ Aku adalah anak eomma dan eomma adalah ibuku, itu cukup? “

“ Joohyun, tentang kau dan Changmin…” Aku berdiri cepat, reaksiku menyebabkan ibu tiriku berhenti bicara “..aku dan oppa akan menyelesaikannya, eomma tenang saja. Kami akan baik-baik saja “

“ Tapi Joohyun, kalian bisa..”

“ Eomma, lebih baik kita bereskan ini secepatnya, aku benar-benar harus segera kembali ke Seoul”

Kalimatku telah cukup untuk mengakhiri pembicaraan kami.

~**~

Hampir dua minggu kepulanganku dari Incheon, aku menerima kabar dari ibuku jika ia telah mulai kembali bertugas mengisi mata kuliah diuniversitas tempat dia bekerja. Kabar itu membuatku senang, dia tidak harus terus meratap akan kepergian ayah, kembali kekehidupan semula adalah salah satu jalan terbaik untuk tetap membuat hidupmu bertahan didunia ini.

Aku menatap langit diatasku, sedikit berawan dan menunjukkan akan tanda-tanda gerimis sebentar lagi. Kali ini pikiranku beralih memikirkan satu-satunya pria yang kucintai. Seminggu yang lalu aku masih menerima kabar darinya, dia memberiku kabar jika perusahaanya mengangkatnya menjadi G.M ( General Manager) karena kinerjanya yang memuaskan, dan sejak saat itu aku masih belum menerima kabar darinya, mungkin dia dibuat sibuk dengan pekerjaan barunya.

Aku masih bertahan untuk tidak membahas hubungan kami selanjutnya, memang sudah sangat jelas dan terbuka jalan yang sangat lebar untuk kami bisa bersama, tapi aku masih belum bisa menyingkirkan rasa bersalah yang seperti aku tengah menghianati ayah dan ibu tiriku. Aku perlu waktu untuk benar-benar memikirkannya.

Bus yang menjadi langgananku akhirnya tiba, aku langsung masuk kedalamnya dan seperti biasa memilih kursi yang berada paling pojok dan belakang bus, setelah menempatkan diriku dengan nyaman, aku mulai mengeluarkan ponselku, memasangkan sebuah earphone untuk mendengarkan musik yang mengalir melalui kabel itu. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, sesuai tebakanku gerimis kecil mulai menjatuhi bumi, kukeluarkan sebelah tanganku untuk menerima rintikan lembut itu, menyegarkan….

Aku terkejut saat kurasakan seseorang duduk disebelahku, kutarik tanganku masuk kembali melalui jendela bus dan menoleh kesebelahku, kupikir aku berteriak tertahan saat menyadari siapa yang duduk disebelahku, namun langsung bisa menahan diri untuk tidak menarik perhatian

“ Lagu apa yang sedang kau dengar ?” tanya Changmin sambil mengambil salah satu kabel earphone dan memasangkannya disalah satu telinganya . Dia mengernyit sesaat mendengarkan lagu yang diputar sebelum akhirnya mengangguk seolah merasa cocok untuk menikmati lagu itu bersama

“ Op..oppa..” ucapku akhirnya setelah menemukan suaraku kembali setelah terkejut beberapa detik setelahnya “ a..apa yang kau lakukan disini?” tanyaku bingung

“ Menemuimu tentu saja “ jawabnya lugas lalu bersender santai dikursi bus

“Tapi..tapi aku tidak melihatmu dihalte tadi “ jawabku mencoba mengingat situasiku saat aku menunggu bus dihalte

“ Kau terlalu sibuk memandang langit “ jawabnya ringkas lalu menutup kedua matanya kembali menikmati lagu yang kami dengar bersama

“ Tapi, kenapa …”

“ Aku merindukanmu Joohyun, sekarang diamlah….kau tidak pernah bilang jika selera musikmu lumayan juga”

~**~

Kami berdua berjalan dalam diam dijalanan kecil yang akan membawa kami menuju rumah kecil yang kutempati di Seoul. Hunjan rintik-rintik telah benar-benar berhenti namun awan masih ingin menunjukkan pesona kelabunya yang mulai bercampur semburat ungu sore hari. Aku menikmati kediaman kami, menikmati suara serempak langkah kami, menikmati aroma tubuhnya yang terbawa angin sore. Disalah satu sudut hatiku meneriakkan kegembirannya karena akhirnya bisa kembali melihat Changmin, sudut lainnya memaki diriku yang terus terdiam tanpa menanyakan kabarnya, satu sudut lainnya melonjok senang karena rasa rindu yang selalu ketekan selama beberapa minggu ini seolah berhasil menyingkirkan beban yang memberatinya, setitik rasa bersalah tetap ada dan masih bisa kurasakan, tapi mulai menjauhiku dan itu membuatku jauh merasa lebih ringan.

“ Ayo lebih cepat “ Changmin membuka suaranya, tanpa ragu namja itu meraih telapak tanganku dan menggengamnya hangat didalam telapak besar tangannya. Dia menatapku lembut sebelum akhirnya kembali melangkah membawaku bersamanya. Aku tersenyum kecil melihat sisi wajahnya sambil mengikutinya melangkah. Aku sudah lupa sejak kapan aku benar-benar bisa tesenyum? Urat-urat diwajahku terasa sangat kaku semenjak kepergian ayah sehingga Taeyeon eonni—rekan kerjaku di sekolah tempatku mengajar mengatakan aku mulai menjadi pemurung. Tapi sekarang sepertinya aku tahu cara tersenyum dengan baik itu seperti apa, hanya dengan adanya namja ini aku tahu seperti apa kebahagiaan itu sebenarnya. Tentu saja…appa benar.

Kami akhirnya benar-benar sampai dirumahku, Changmin menuntunku menyebrangi halaman kecil rumahku untuk sampai diteras. Aku senang mendapati jika dirinya masih belum ada niatan untuk melepaskan genggamannya ditanganku.

“ Aku akan pindah ke Seoul mulai minggu depan “

“ Nde ?” aku menatap Changmin sepenuhnya sekarang

“ Aku dikirim keperusahan pusat untuk menjadi GM disini, aku tidak mau sombong didepanmu tapi mereka mengakui kinerjaku “ Changmin tersenyum senang, Ya Tuhan~ lama sekali sepertinya aku tidak melihat senyum terbaiknya ini

“ Tapi oppa baru menjadi GM di perusahaan oppa sebelumnya seminggu yang lalu, bagaimana mungkin…”

“ Sulit untuk tidak bertingkah besar kepala sekarang “ dia mengangkat bahunya bangga “ ..tapi selama seminggu wakil direktur pusat telah bertemu denganku, dia langsung memintaku bergabung dan menawari posisi yang sama, posisi yang baru saja kosong karena GM yang sebelumnya telah dipindahtugaskan ke tempat lain”

Kali ini aku yang tersenyum senang, eratan kedua telapak tangan kami semakin kuat dan saling meremas. Aku sadar kami masih diluar lalu aku segera merogoh saku blazzerku untuk mengambil kunci rumah agar kami bisa masuk.

Berhasil menemukannya aku segera menuju pintu dan memasukkan kuncinya kelubang pintu “ seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak akan lagi melepasmu Joohyun” gerakan tanganku berhenti, tubuhku mematung sesaat sebelum akhirnya kurasakan tarikan tangan Changmin dan memutar tubuhku pelan agar menghadapnya .

“ tepati janjimu pada appa, buatlah dirimu bahagia…” Changmin berujar pelan

“ Bagaimana caranya ?” aku balik bertanya

Changmin tertawa geli sekarang, dia sempat menyipitkan kedua matanya kearahku sebelum akhirnya kembali menatap lembut kearahku dan menarikku cepat kedepannya dan langsung meletakkan kedua tangannya dipinggangku. Aku menahan nafas

“ Kita tahu caranya…” Changmin berbisik “ berhenti berkorban untuk orang lain dan pikirkan kebahagiaan kita, aku kebahagiaanmu dan kau kebahagiaanku…cara yang mudah bukan?”

Sulit rasanya untuk tidak tersenyum lebar kearah namja ini sekarang “ Aku benar-benar mencintaimu Joohyun, kau tahu sangat baik tentang hal itu…“ bisik Changmin manis dengan nafas hangatnya yang menabrak wajahku, aku tahu apa yang harus kulakukan, saat wajahnya mendekat kearahku—tutup matamu Seo Joohyun.

Saat ciuman ini selesai akan kukatakan padanya jika aku juga sangat…sangat…sangat mencintainya. Memberitahunya jika ada kehidupan kedua sekalipun kami akan saling mencari dan menemukan satu sama lain.

THE END

Akhirnya selesai juga two-shoot ff ChangSeo ini, aku ga bakal tega mau buatnya jadi kisah sad ending dan memang rencana awal Seo dan Changmin juga bakal tetap bersatu lol

Yang pada minta ff ChangSeo keaku semoga cukup puas yang dengan karya memuakkan ini T.T

Hanya ini mampu buatnya~

Thanks banget untuk yang sabar nungguin ff ini terbit~

53 thoughts on “DON’T BE MY STEPBROTHER – FINISH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s