DON’T BE MY STEPBROTHER – CONFESSION

tumblr_meqrfxJfhp1qbloxuo1_500683064346

 

 

Judul                :  DON’T BE MY STEPBROTHER – CONFESSION

Main Cast        :  Seo Joo Hyun as Seohyun (SNSD)

Shim Changmin as Changmin ( TVXQ )

Author            : Riska Fasyah ( @riskafasyah )

Rate                 : General

Note                : Sejujurnya cerita ini mau gue buat oneshoot , tapi kayaknya ga cukup -__- dan akhirnya jadi panjang gini u,u . Ikuti ajalah kemana cerita ini mau dibawa -__-

 

Entah sejak kapan aku jatuh cinta pada pria ini , saat ia berbicara untuk kali pertamanya kepadaku atau justru…saat aku yang pertama kali melihatnya ?

 

2013

 

Aku menghembuskan nafas pelan dan lelah saat menyadari titik-titik hujan yang mulai turun , menengadahkan wajahku keatas untuk sesaat dan kembali mendesah saat bisa melihat semburat gelap awan-awan tebal yang menghasilkan kucuran hujan yang semakin deras . Kumundurkan tubuhku dengan beberapa langkah kebelakang untuk melindungi tubuhku dari percikan air-air hujan yang turun menyapa bumi . Aku sontak memeluk kedua lenganku secara bersilang saat merasakan hujan semakin deras , seharusnya aku tidak mengabaikan ramalan cuaca tadi pagi dan menerima saran dari Taeyeon eonni salah satu teman yang bekerja bersamaku sebagai guru disekolah dasar yang ada dipusat kota Seoul untuk membawa payung sebagai persiapan .

 

Jam yang melingkar ditanganku telah menunjukkan pukul 4 sore dan seharusnya bus yang selalu aku tumpangi telah menepi kehalte ini untuk menurun naikkan penumpang langganannya . Apa mungkin karena hujan membuat bus itu sedikit mengalami keterlambatan ? Belum lagi hanya ada aku dan dua ibu-ibu berusia setengah baya yang sepertinya baru pulang bekerja juga , melihat dari pakaiannya yang sederhana aku yakin jika mereka bekerja sebagai pedagang dipasar tradisional . Sempat kutundukkan kepalaku kearah mereka sebagai adap sopan santun yang biasa kulakukan dan kembali menatap kearah depan , jalan raya yang telah sangat basah akibat hujan yang semakin deras .

 

Beberapa hari ini cuaca memang tidak bersahabat , namun ini adalah hujan yang paling deras selama 3 hari terakhir yang sebelumnya hanyalah berupa awan gelap atau hujan rintik yang tidak akan berpengaruh besar jika kau nekat untuk berjalan dibawahnya rintikan hujan itu . Tapi hari ini … tidak ada cara lain bagiku selain tetap dibawah atap halte bus dan menunggu bus langgananku tiba .

 

Bisa kudengar jika dua ibu-ibu disebelahku ini mulai berbagi cerita tentang kehidupan rumah tangga mereka , mereka mengomeli anak-anak mereka yang nakal atau masalah suami istri yang sebenarnya bisa diselesaikan jika salah satu dari pelaku rumah tangga itu ada yang mau mengalah . Fokus pada pikiranku sendiri yang terbang dan tiba-tiba memikirkan orang itu . Kenapa tiba-tiba mengingatnya ? Nafas beratku meluncur lancar saat mengingat wajahnya lagi , ada rasa sesak yang sangat menggangguku hanya karena mengingat namanya . Ini sudah ada seminggu dia tidak menemuiku , bahkan satu pesan singkat sama sekali tidak kuterima darinya . Terakhir kali kami bertemu , memang sempat terjadi perdebatan kecil karena ia memaksaku untuk ikut dengannya pindah ke Incheon , tapi itu tidak mungkin mengingat pekerjaanku dan kehidupanku yang sudah berjalan normal ada disini , di Seoul .

 

Pikiranku terus berkutat padanya sampai aku dibuat sadar jika dua ibu-ibu yang berdiri bersamaku itu melewatiku untuk naik kedalam bus yang entah sejak kapan telah menempi kehalte bus tempat kami menunggunya . Cepat tanggap akan keadaan ini , kubawa langkahku mengikuti dua ibu-ibu itu untuk naik kedalam bus . Memilih satu tempat kosong dipaling belakang bus dan mendudukkan tubuhku disana . Aku menepuk-nepuk blazerku yang sedikit basah akibat terkena kucuran hujan saat hendak menaiki bus dan menyingkirkan poniku keatas kepala karena basah .

Perjalanan menuju rumah yang kutempati sekitar 25 menit dan kupikir aku akan menghabiskan 25 menit itu dengan mendengarkan musik yang ada diponselku .

 

~**~

 

Kubuka gerbang kecil yang menyatukan pagar tembok yang mengelilingi rumahku , langkahku langsung terhenti saat melihat satu sosok menjulang yang berdiri didepan pintu rumahku dengan menyender disana sambil menatap semburat awan yang masih cukup gelap , hujan deras telah berubah menjadi rintik-rintik .

Aku memiringkan kepalaku sedikit bingung namun lebih menajamkan mataku untuk yakin jika yang kulihat memang dia . Sadar akan kehadiranku akhirnya orang itu balas menatapku , tubuhnya langsung tegak saat menyadari aku mulai berjalan menghampirinya . Tidak ada senyum diwajah runcingnya , hanya memandangku kaku saat aku telah benar-benar sampai didepannya .

 

“ Kenapa tidak masuk ? “ tanyaku pelan , sedikit serak suara yang muncul dari tenggorokkanku .

 

“ Kau tidak meninggalkan kunci rumahmu dibawah pot “ ujarnya pelan . Aku memutar mataku dan teringat saat tadi pagi kuputuskan untuk tidak menaruh kunci rumahku dibawah pot , kupikir dia tidak akan berkunjung kemari setelah hampir seminggu tidak ada kabar darinya . Aku berdeham kecil sebelum kembali menatapnya “ Kupikir kau tidak akan kemari “ jawabku jujur . Bisa kulihat perubahan ekspresinya , dia menaikkan sebelah alisnya yang biasanya ia lakukan jika ia hendak memprotes , aku siap menerima balasannya namun sedikit kecewa saat ia justru memalingkan wajahnya seolah menahan kalimat yang hendak ia ucapkan .

 

Mungkin dia masih kesal padaku ? Lalu kenapa kemari ?

 

Akhirnya aku berjalan menuju pintu depan rumahku , memasukkan kunci kedalam lubang kunci , memutarnya dua kali yang berhasil membuat pintu ini terbuka . “ Masuklah …” ujarku pelan , aku hanya memiringkan kepala kebelakang untuk mengeceknya sesaat dan kembali menatap kedepan membawa langkahku lebih masuk kedalam rumah .

 

Bisa kudengar derap langkahnya yang menyusul dibelakangku , mencoba bersikap biasa, aku memutuskan untuk menaruh tasku di sofa santai panjang yang ada diruang tengah . Lalu berjalan kedapur menuju lemari pendingin yang berada tepat dimeja dapur . “ Mau minum apa ? “ tanyaku pelan memutar kepalaku kearahnya

 

“ Aku akan meminum apapun “ jawabnya singkat , aku menaikkan bahuku setelah mendengarkan jawabannya , mengambil dua kaleng jus jeruk yang kubawa kemeja makan disebrang dapur dimana ia mendudukkan tubuhnya disalah satu kursinya .

“ minumlah “ ujarku sambil menaruh minuman dimeja dan menyodorkan kearahnya . Sesaat tatapan kami bertemu , cukup berefek padaku yang seolah merasa waktu juga ikut berhenti , membiarkanku untuk tenggelam sesaat didalam mata hitamnya yang tanpa berkedip menatapku .

 

“ Kau terlihat kurus “ ucapnya menyadarkanku

 

Aku mengedip cepat sebelum berdeham pelan lalu berjalan meninggalkan meja makan kembali menuju dapur memeriksa lemari pendingin untuk memeriksa adakah makanan yang bisa kami makan . “ Mungkin aku stress “ jawabku singkat . Tidak ada balasan darinya , aku lebih lama memeriksa lemari kulkasku padahal aku sudah menemukan kornet yang baru diolah sebagian dan masih bisa kuolah lagi untuk makan malam . Aku seperti tidak sanggup jika harus menghadapinya setelah kalimat pendek itu meluncur dari mulutku .

 

“ Apa yang menganggu pikiranmu ? “

 

Akhirnya ia membuka suaranya lagi , aku membuang nafas sesaat sebelum berbalik , melihat wajahnya sebentar namun kembali berjalan ke bench dapur seolah mempersibuk diriku untuk menyiapkan makan malam . “ Banyak hal~ pekerjaan , kesehatan appa , belum lagi …..”

 

Begitu ingin kuucapkan ‘kau’ namun sekuat tenaga kutahan lidahku , mengatupkan gigi-gigiku dan akhirnya mendesah berat “ lupakan~ “

 

“ Appa sudah lebih membaik Joohyun , kau tidak perlu khawatir “ balasnya , lebih seperti ia memberi suatu kabar yang memang harus disampaikan dari pada sebuah keantusiasan .

Aku memulai mengiris bawang , seledri dan daun bawang untuk menambah aroma dan rasa dari kornet yang akan kuolah , hal ini kulakukan untuk menyibukkan diriku sendiri dari pada harus menghadapinya . “ Aku akan membuat makan malam untuk kita “ ujarku tanpa perlu repot-repot menatapnya .

 

Selama beberapa  menit hanya terdengar suara irisan dari pisau yang kugunakan sampai kudengar derit kursi yang membuatku menoleh . Bisa kulihat dia bangkit dari kursi yang didudukinya . Sedikit kusut ekspresinya saat kedua mata kami bertemu . “ Lebih baik aku pulang “ ujarnya . Sedikit terkejut kutinggalkan begitu saja pekerjaanku dan langsung menghampiri posisinya

“ Ada apa ? “ sialan ! Aku tidak bisa menutupi rasa kecewaku

 

“ Kau seperti tidak ingin bicara denganku “ sahutnya

 

“ Aku…tidak , bukan seperti itu “ ujarku lalu menundukkan kepalaku

 

“ Apa ada masalah diantara kita ? “ tanyanya membuatku kembali menatapnya

 

“ Masalah apa ? “

 

“ Kau benar-benar tidak bisa merabanya Joohyun ? “ dia bertanya tidak sabar .

 

Aku memilih diam dan hanya menatap sedih kearahnya . Dia menggosok belakang kepalanya dengan tidak sabar lalu berkacak pinggang dan menatap jengah kearahku . “ Katakan sesuatu ! “

 

“ Apa yang ingin kau dengar ? “ sahutku lemah

 

Dia mendesis kesal , mungkin sedikit frustasi karena sikapku . “ Aku merindukanmu oppa “ ucapku pelan , namun kalimat itu bukan seperti sesuatu yang manis saat diucapkan , lebih terdengar sebagai satu keperihan karena satu perasaan yang tersimpan sejak lama . Satu perasaan yang jauh lebih dalam dari rasa rindu dan hampir 6 tahun ini menyiksaku .

 

“ Joohyun …” terdengar sedikit lelah dari nada suaranya “ Kita luruskan semua yang menganggu kita “

 

Jantungku berdetak cepat seketika , satu keyakinan tergambar jelas diwajahnya sekarang , aku menggigit gigir bawahku penuh antisipasi untuk apa yang akan ia ucapkan . Sesaat kilasan masa lalu menyapa pikiranku , satu garis kehidupan yang membawaku bertemu dengan pria ini , kuakui sebagai satu satunya pria yang membuatku jatuh cinta . Entah sejak kapan namun yang jelas aku terjatuh padanya , jatuh benar-benar hanya padanya . Shim Changmin~

 

Tapi masih ada satu hal menyakitkan yang tidak bisa kuhindari , jika pria ini adalah kakak tiriku . Aku jatuh cinta pada kakak tiriku sendiri , dan seketika kalian akan mengerti apa yang membuatku tersiksa selama 6 tahun ini .

 

-FLASHBACK-

 

2005

 

Aku menghapus air mataku dengan yakin lalu berjalan menghampiri ayahku yang terduduk hampa menatap tanah kuburan yang masih basah akibat rintikan hujan yang jatuh kebumi . Tanah pemakaman ini adalah tempat dimana ibuku berbaring untuk selama-lamanya . Meninggalkan aku dan ayahku untuk tetap melanjutkan hidup kami berdua tanpa dirinya . Dialah wanita tersempurna yang mampir dihidupku , menjalankan tugasnya dengan sangat baik sampai akhirnya ia harus kalah karena penyakit kanker payudara yang menyerangnya .

 

“ Appa….” panggilku sambil meraih lengannya “ lebih baik kita pulang “

 

Dia menoleh kearahku dan dengan segera menghapus air matanya . Senyum pedihnya terpeta saat ia mengangguk kearahku sambil mengusap kepalaku . “ Ne Joohyun~ ayo kita pulang “

 

Aku masih sempat menengokkan kepalaku untuk menatap makam ibuku dan tersenyum kearah makam itu . Istirahatlah eomma~ kali ini aku yang akan menjaga appa . “ aku yang akan membuat makan malam untuk kita malam ini appa “ ujarku dengan nada yang berusaha terdengar antusias dan memaksakan satu senyuman kearahnya . Ia mengangguk singkat dan membalas senyumku tipis . Walaupun masih duduk dikelas 1 SMP , mulai sekarang tugas ibuku akan kubagi berdua dengan ayahku , kami sendiri yang akan mengisi kekosongan itu .

 

 

2007

 

Aku tidak bisa …..

Aku dan ayahku tidak bisa mengisi kekosongan itu , hal ini tidak bisa kami pungkiri lagi saat ayahku jatuh cinta pada seorang wanita yang merupakan teman sekolahnya saat SMA . Mereka bertemu disebuah acara dimana ayah menjadi narasumber disebuah universitas , ayahku merupakan dosen di sebuah fakultas di Seoul dan wanita itu adalah salah satu narasumber juga yang diundang oleh pihak universitas . Aku tidak pernah melihatnya sangat antusias sekali menceritakan tentang wanita yang spesial ini sejak kematian ibuku . Sebuah kebahagian yang baru memancar dari wajahnya , aku tersenyum pahit saat dia mengatakan jika wanita itu telah lama bercerai dengan suaminya sejak anak laki-laki dari wanita itu baru berumur 1 bulan . Dia wanita yang kuat , itu menurut cerita ayahku~ membesarkan anak laki-lakinya sendiri tanpa ada satupun tempat bersandar .

 

Ayah sangat bahagia….

 

Aku tidak bisa memungkirinya , usiaku yang 17 tahun ini sudah cukup mampu merasakan kebahagiannya~ Senyumnya yang begitu memancarkan kebahagiaan kulihat terakhir kali saat ibuku masih hidup , dan sekarang aku kembali melihat senyum itu saat ia membawa wanita baru yang mengisi hatinya kerumah untuk diperkenalkan padaku . Demi apapun aku tidak akan mampu menghancurkan senyum itu , jika aku ingin bersikap egois aku akan meminta ayah membawa wanita itu pergi karena sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkan siapa saja mengisi tempat ibuku .

 

Tapi….. lihatlah senyum itu….Ya Tuhan ! Ayahku terlihat begitu bahagia …dia bahagia….

 

Dan wanita yang bernama Shim Ahn Jung ini berhasil membuat senyum itu kembali , senyum kebahagiaan ayahku kembali , bagaimana mungkin aku mampu melawannya .

 

Aku menyerah , aku mengaku kalah~ yang kulakukan adalah mengangguk saat ia bertanya “ Joohyun~ah , bolehkah bibi berteman denganmu ? “

 

 

2008

 

“ Joohyun , ini anak bibi~ Shim Changmin . Dia 3 tahun diatasmu sayang~ sebentar lagi Changmin akan menjadi kakak laki-lakimu “ bibi Ahn Jung memberitahuku dengan binar kebahagiaan , sosok anak laki-lakinya yang menjulang jauh diatasku . Aku sampai perlu mendangakkan kepalaku untuk bisa lebih baik melihatnya

 

Wajahnya yang runcing persis sekali dengan bantuk wajah bibi Ahn Jung , mata hitamnya tampak sempurna dengan hiasan bulu mata tipis disetiap kelopak matanya , hidung mancung dengan dagu panjang kupikir akan menciutkan nyali beberapa pria yang akan kalah pamor dengan kesempurnaan bentuk wajahnya , gigi-gigi kecil dan rapat penghias yang sangat apik melengkapi seringaian kecil yang ia tunjukkan pada ibunya . , alis tebalnya menyatu sambil menatap jengah sang ibu . Changmin memutar kepalanya kearahku yang membuatku langsung menundukkan kepalaku . Tatapannya terlihat sangat tajam atau itu hanya perasaanku saja .

 

“ Joohyun~ah , kau bisa memanggilnya oppa sayang~ mulai sekarang Changmin akan ikut menjagamu “ lanjut bibi Ahn Jung senang , aku hanya mengangguk kecil namun tetap menghindar dari kontak mata dengannya .

 

“ Changmin~ah , kau bisa panggil dia Joohyun~ sekarang gadis manis ini adalah adikmu~ seperti apa situasinya eomma ingin kau menjaga dia ….”

 

Terlihat Changmin hendak memprotes namun bibi Ahn Jung segera mengayunkan jari telunjuknya “ ..eomma tidak menerima protesan dalam bentuk apapun …” dengusan langsung meluncur dari bibir tipisnya , dia pasti tidak menyukaiku .

 

“ lakukan sikap yang terbaik sebagai kakak ! “ bibi Ahn Jung menoleh kearahku lalu mengedipkan sebelah matanya jahil “ Kalian sama-sama anak tunggal sebelumnya~ tapi sekarang betapa indahnya hidup saat kalian mendapatkan anggota keluarga yang baru “

 

………………………………

 

Hari pernikahan Ayah dan bibi Ahn Jung akhirnya tiba , aku mengenakan dress putih sepanjang lutut dengan tali tipis yang membungkus bahuku sebagai penahannya , sebuah bunga kugenggam dikedua tanganku lalu mencium wanginya . Aku memutar kepalaku kebelakang dan bisa melihat bibi Ahn Jung yang meraih lengan Changmin yang akan membawanya menuju altar dimana ayahku telah menunggunya . Sadar akan tatapanku bibi Ahn Jung segera menyuguhkan senyum manisnya yang membuatku membalasnya , tanpa sengaja aku memindahkan tatapanku kearah Changmin dan dia hanya menatap datar kearahku , tampak malas justru . Aku membuang nafas berat dan berasumsi jika sepertinya ia masih tidak menyukaiku .

“ Aku begitu tegang “ bisik bibi Ahn Jung

 

“ Gwenchana~ bibi terlihat sangat cantik “ sahutku jujur

 

“ Terima kasih Joohyun~ah , apakah kau tahu kau juga terlihat sangat cantik dengan gaun itu “ dia membalas tulus , aku balas tersenyum kearahnya namun langsung tersadar saat satu tatapan tajam diarahkan kearahku . Shim Changmin kembali menatapku yang membuat beberapa bulu dipunggungku meremang , pandangan matanya seperti menembusku dan aku akhirnya memilih untuk kembali menatap kedepan .

 

“ Sebentar lagi dimulai “ kudengar bisikan tegang dari bibi Ahn Jung dan sedetik kemudian pintu gereja terbuka , memperlihatkan karpet merah yang terjulur dari pintu gereja sampai kealtar dimana ayahku dan bibi Ahn Jung akan melangsungkan pernikahan kedua mereka . Aku memimpin mereka berjalan lebih dulu dengan masih menggenggam buket bunga ditanganku , beberapa keluarga , sahabat dan kolega hadir digereja ini untuk menjadi saksi pernikahan ayahku dan bibi Ahn Jung . Sampai akhirnya kami sampai didepan altar , ayahku perlahan berbalik~ Ya Tuhan dia sangat tampan , aku memberi jalan agar Changmin lebih mudah mengantar bibi Ahn Jung dan menyerahkannya pada ayahku , segera ia raih tangan bibi Ahn Jung dan menuntun wanita itu untuk naik satu undakan agar berdiri sejajar dengannya didepan altar . Mataku berair saat melihat mereka berdua telah berdiri didepan pastur yang akan memberkati mereka . Ibu~ kumohon jangan marah melihat ayah bersanding dengan wanita lain, aku menjamin atas namaku jika ia adalah wanita terbaik untuk ayah sekarang , bukan sebagai penggantimu ibu~ tapi sebagai sesuatu yang baru tanpa harus melupakan kau yang sudah tenang disana , kau tetap memiliki tempat dihati kami, tapi …..ijinkan kami berbagi tempat itu dengan bibi Ahn Jung….

 

“ Kita harus duduk “

 

Aku terkesiap saat merasakan seseorang menarik lenganku dan membawaku untuk duduk dibangku panjang yang berada dideretan paling depan , aku menoleh dan mendapati Changmin yang ternyata dialah menarik lenganku . “ Sebentar lagi kau tidak bisa memanggilnya bibi Ahn Jung lagi “ celetuknya pelan saat suara pastur ini lebih mendominasi karena ia sedang melakukan khotbah sebentar sebelum memulai proses pemberkatan .

“ Ne~ “ sahutku tanpa menatapnya dan masih tetap bertahan menatap ayah dan bibi Ahn Jung

 

“ Kau sedih ? “ ia bertanya sinis , hal ini membuatku akhirnya balas menatapnya . Aku terdiam sesaat tenggelam dibola matanya yang pekat sebelum menggeleng kecil “ Aniyo~ aku senang . Bibi Ahn Jung wanita yang pantas untuk ayahku “

 

Kalimatku sepertinya cukup berpengaruh padanya , ada perubahan ekspresi diwajahnya dan aku tidak mau bersusah payah meraba ekspresi itu karena aku telah memutar kepalaku lagi untuk menatap dua orang yang tengah berbahagia ini karena sang pastur telah memulai pemberkatan pernikahan mereka .

 

…………………

 

Aku terus menundukkan kepalaku disepanjang lorong menuju kelasku . Ini adalah sekolah baru yang dipilihkan bibi Ahn Jung~ ah tidak~ aku memanggilnya ibu sekarang . Ibu memilihkan sekolah ini setelah akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Incheon karena ayahku yang berpindah tugas disalah satu Universitas di Incheon agar dapat menyesuaikan pekerjaan bibi yang memang berada di kota ini . Aku memasuki sekolah menengah atas yang sama dengan sekolah dimana Changmin menuntut ilmu , aku duduk dikelas satu dan Changmin dua tingkat diatasku . Ibu mengatakan padaku agar tidak sungkan-sungkan menghubungi Changmin jika aku mengalami kesulitan disekolah baruku , tapi hal itu sepertinya tidak bisa kulakukan . Kami pergi bersama saat berangkat kesekolah kemarin dihari pertama aku masuk sekolah baruku dengan menaiki bus tapi saat turun dari bus dia langsung memberikan satu peringatan kepadaku

 

“ Berpura-puralah kita tidak saling mengenal disekolah Joohyun “

 

Matanya yang tajam saat itu membuatku tidak bisa membantah dan memilih untuk menundukkan kepalaku dalam-dalam sampai akhirnya dia berjalan lebih dulu masuk kedalam halaman sekolah . Setelah yakin jarak kami telah cukup jauh baru aku berani berjalan kembali . Changmin sepertinya memang tidak menyukaiku .

 

Hari kedua disekolah tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan . Aku duduk dibangku paling belakang tanpa ada satupun teman sebangku bersamaku . Bahkan orang-orang disekolah inipun tidak mau menjadi temanku . Keinginan untuk jam sekolah lebih cepat berakhir mulai menjadi salah satu pemikiran favoritku sekarang .

 

……………………….

 

Aku hanya bisa gemetar ketakutan saat 3 anak laki-laki yang kukenali sekelas denganku mengalangi jalanku, tidak tahu sejak kapan mereka ada digang ini dan tiba-tiba berdiri dihadapanku dengan senyum mengerikan yang kompak terukir diwajah mereka . Aku berusaha mengabaikan mereka dengan terus menunduk sambil berjalan namun salah satu diantara mereka langsung menahan lenganku . Sedikit terkejut langsung saja kuhempaskan tangannya dengan kasar yang justru membuat mereka tertawa senang

 

“ Wuhuuuuu~ tenanglah~ kami tidak berniat jahat padamu “ ujarnya dengan nada suara yang terdengar senang melihat reaksiku

 

Aku balas menatapnya antara panik dan resah , berusaha mengabaikan ketiga orang ini aku tetap melangkah sampai salah satu diantara mereka yang paling tinggi langsung menghadang jalanku dengan berdiri tepat dihadapanku . Aku harus mendangakkan wajahku agar bisa melihat wajahnya

 

“ Kau takut pada kami ? “ tanyanya dengan senyum sinis

 

“ per..pergilah…” tanggapku gugup

 

“ Kami hanya ingin berkenalan denganmu~ kau pendiam sekali dikelas~ aku akan memberi sambutan selamat datang padamu “ ujarnya

 

Aku menggeleng cepat dan berusaha mengambil jalan lain dengan mendahului posisi namja ini , namun kedua tangan anak laki-laki ini langsung saja menyentuh kedua lenganku dan membawaku kembali menghadapnya . Sontak aku memberontak sekuat tenagaku namun dia justru semakin kuat mencengkram kedua lenganku dan akupun bisa mendengar tawa riangnya seolah melakukan hal ini padaku adalah satu hiburan tersendiri untuknya dan kawan-kawannya . Aku memejamkan kedua mataku dengan kencang lalu sekuat tenaga mendorong dadanya yang berhasil membuat dia terjungkang . Tawa ketiga anak laki-laki ini menghilang dan beberapa detik kemudian anak lelaki yang kudorong hingga terjatuh ini mengerang kesal . Bisa kulihat tatapan membunuhnya yang ia lemparkan kearahku dan sontak membuat kakiku semakin gemetar .

 

Aku mundur kebelakang namun aku merasakan menabrak sesuatu dan ternyata salah satu dari mereka yang bertubuh sedikit gemuklah yang menahan langkah mundurku . Satu anak laki-laki lagi yang paling kurus mengadang akses jalanku lainnya dan sekarang tiga anak laki-laki ini tampak mengelilingi semakin mengekangku dalam keintimidasi mereka bertiga .

 

“ s..se..sebenarnya apa salahku …” ujarku gemetar , aku tidak tahu sejak kapan air mataku mengalir , yang kulakukan terus menunduk dengan ketiga anak laki-laki ini yang semakin mengepungku . Apa yang akan mereka lakukan padaku ??

 

Aku siap untuk kemungkinan terburuk sampai terdengar suara hantaman keras dan membuatku membuka mataku , kulihat anak lelaki yang paling tinggi mundur beberapa langkah dariku akibat terkena lemparan tas sekolah yang entah berasal dari mana , aku hanya bisa melihat tas sekolah yang telah tergeletak dijalan raya setelah menghantam wajahnya . Kurasakan kepungan yang mereka lakukan untuk menekanku mulai merenggang , mereka serempak berjalan mundur beberapa langkah menjauhiku , lebih membuatku bingung adalah saat mereka tidak lagi menatapku melainkan menatap kebelakang kepalaku dengan raut wajah panik .

 

“ Hei kau yang paling gemuk~ pungut tas itu dan bawa kemari “

 

Mataku melebar mendengar suara yang familiar ditelingaku itu , namun aku masih belum berani untuk menengokkan kebelakang memastikan jika itu memang suara yang kukenal . Aku bisa melihat anak laki-laki yang paling gemuk saling melempar tatapan panik pada kedua temannya untuk mengikuti ucapan suara dibelakangku itu atau tidak .

 

“ Yaa ! Cepatlah~ “

 

Dengan isyarat ketakutan dari dua temannya , anak lelaki gemuk itu langsung memungut tas itu lalu berjalan ketakutan melewatiku untuk mengembalikan tas itu kepemilik tas yang berdiri dibelakang kami . Mengikuti pandangan dua teman anak laki-laki gemuk itu akhirnya aku memutar kepalaku dan seketika nafas lega meluncur dari bibirku saat melihatnya . Baru pertama kali ini aku begitu ingin melompat senang karena melihat kakak tiriku . Merasakan pertolongan darinya yang menunjukkan satu kepedulian kepadaku .

 

Si gendut itu menyerahkan tas Changmin dengan tangan yang sedikit gemetar dan langsung disambut Changmin , senyum sinis terukir diwajah runcingnya lalu memberikan isyarat pada sigemuk untuk pergi dengan menggerakkan dagunya . Anak lelaki gemuk ini segera mundur dengan panik bergabung bersama teman-temannya yang lain .

 

“ Pulang sana kalian bertiga~ “ perintah Changmin dan dibalas anggukan cepat dari ketiga anak lelaki itu . Aku hanya bisa melongo saat melihat mereka mengambil langkah seribu meninggalkan gang kecil ini . Aku masih terdiam ditempatku dengan menundukkan kepalaku, membiyarkan rambut panjangku jatuh menutupi wajahku saat bisa mendengar derap langkah yang kuyakin berasal dari langkah kaki Changmin mendekati posisiku .

 

“ aishhh~ sangat merepotkan punya adik perempuan… ayo pulang “

 

Aku mengangkat wajahku dan menyadari jika ia telah melewatiku , mataku terbuka lebar karena cukup terkejut mendengar ucapannya beberapa saat lalu . Aku hanya bisa terdiam ditempatku menatap punggung Changmin yang semakin menjauh sampai kulihat ia berhenti dan memutar tubuhnya kembali . “ Kau itu mau pulang atau tidak ? “ tanyanya tidak sabar . Aku mengedip cepat dan segera tersadar atas lumpuhnya tubuhku . “ oh..ne “ sahutku dan langsung berlari kecil mengejarnya . Tanpa perlu menungguku Changmin berjalan lebih dulu dengan langkah santai dan aku mengikutinya dari belakang . Mungkin dia tidak akan suka berjalan bersebelahan denganku sehingga kuputuskan untuk berjalan beberapa langkah dibelakangnya .

 

Bisa kudengar ia bersenandung kecil selama kami berjalan menuju halte untuk menaiki bus menuju rumah kami , aku dibuat bingung bagaimana harus mengucapkan terima kasih atas bantuannya . Sampai akhirnya kubuang rasa maluku dan langsung menghadang jalannya saat kami baru sampai dipintu gerbang rumah kami . Kulihat raut keterkejutan diwajahnya saat aku berdiri dihadapannya “ Gomawoyo oppa atas bantuanmu tadi “ ucapku singkat lalu membungkukkan tubuhku sesaat . Setelah itu langsung saja aku memutar tubuhku dan berlari kencang masuk kedalam rumah lebih dulu . Entah kenapa kedua pipiku terasa terbakar saat aku berlari , oh yang benar saja apa yang harus membuatku malu hanya karena mengucapkan terima kasih

 

………………….

Hari ini sepulang sekolah aku dan Changmin hanya tinggal berdua dirumah yang sudah ada satu bulan ini kami sekeluarga tempati . Ayah dan ibu tiriku masih sibuk dengan pekerjaan mereka dan baru saja menguhubungiku jika mungkin mereka akan pulang sedikit larut . Keluarga kami tidak mempunyai pembantu rumah tangga sehingga aku dan ibu tiriku berbagi pekerjaan rumah , aku terkadang dibuat kagum olehnya karena dia masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dikesibukan yang ia punya . Menyiapkan sarapan dipagi hari dan masih sempat mengurusi semua keperluan ayahku , bahkan aku pernah mendapatinya masih menyempatkan diri memeriksa keperluan Changmin yang justru mendapatkan protesan dari kakak tiriku itu . Perhatian itu juga tak luput dia berikan padaku , membuatku tidak merasa menyesal memberikan kesempatan padanya untuk mengisi tempat ibuku yang sudah lama kosong .

 

Namun karena keterlambatan kepulangan ayah dan ibu tiriku membuatku berinisiatif untuk membuat makan malam untuk aku dan Changmin . Kakak tiriku itu sama sekali belum keluar dari kamar tidurnya sejak sepulang sekolah 1 jam lalu . Dan aku tidak berani untuk mengetuk pintu kamarnya sekedar menanyakan ia ingin menu apa untuk makan malam kami . Akhirnya kuputuskan untuk membuat nasi goreng kimchi yang selalu kubuat saat aku dan ayahku masih tinggal berdua saja , aku membuat menu itu jika ayahku pulang terlambat yang menyebabkannya tidak bisa membelikan makan malam untukku .

 

Kepalaku menoleh sesaat saat aku mendengar suara decit pintu kamar yang terbuka . Aku yakin jika itu Changmin yang baru saja keluar dari kamarnya , kembali kepekerjaanku aku mulai menyiapkan bahan-bahan yang kubutuhkan , kucoba mengabaikan suara derap langkah yang sepertinya mendekat kearah dapur . Mungkin kakak tiriku itu membutuhkan sesuatu . Tapi aku lebih memilih untuk fokus pada pekerjaanku sendiri dan sekarang sibuk mencari kimchi yang disimpan oleh ibu tiriku . Aku menjijitkan ujung kakiku untuk membuka lemari makan yang ada diatas bench dapur tempatku akan memasak karena sedikit tinggi posisinya dan langsung menemukan sebuah kotak plastic yang berisikan kimchi yang telah disimpan . Kuarahkan tanganku untuk menjangkau kotak plastik itu namun tidak mendukungnya tinggi badanku membuat aku hanya bisa menggapai sia-sia kotak kimchi itu .

 

Lebih menjinjitkan ujung kakiku , aku sedikit mengerang kesal karena masih saja tangan pendekku belum bisa menggapai kotak sialan itu . Aku tidak pernah merasa pendek sebelumnya karena diantara teman-teman sekelasku aku termasuk tinggi diantara mereka dan mengeluh kesal karena ternyata aku kalah jauh dari anggota keluargaku yang baru ini . Ibu Ahn Jung memang tinggi dan hal itu turun ke Changmin yang membuat kakak tiriku itu terlihat jangkung . Dan lemari makan sialan ini mengikuti standar tinggi badan mereka . Hampir menyerah dan bersiap memikirkan menu lain untuk kubuat tiba-tiba saja kurasakan nuansa hangat dibelakang tubuhku . Aku menegang saat sadar tubuh seseorang menempel dibelakang tubuhku . Menelan ludah beratku saat sadar tangan panjang Changmin terjulur untuk mengambil kotak kimchi itu dengan masih mengungkung tubuhku dengan posisinya yang dibelakangku . Nafas hangatnya terasa membelai pucuk kepalaku dan celakanya ikut membuat bulu kudukku meremang .

 

“ Kau pendek sekali “ ujarnya datar

 

Aku menahan nafas saat dia masih bertahan dibelakangku lalu mulai menaruh kotak plastik yang berisi kimchi itu dibench dapur . Bahuku jatuh lemas saat Changmin akhirnya menyingkir menjauh dariku dengan aku yang bisa mendengar derap langkahnya yang menjauh . Salah satu tanganku segera menjangkau dada kiriku dan menekannya kuat karena aku sedikit merasa tidak nyaman dengan degup jantungnya yang entah kenapa harus berdetak sangat cepat , aku meringis kecil karena detak jantungku semakin tidak karuan saat aku mengingat kembali hangat tubuhnya saat dibelakangku . Ada apa sebenarnya ?! Pikiranku buyar selama membuat nasi goreng kimchi ini dan siap menerima kenyataan jika nantinya kakak tiriku itu tidak mau memakannya , dia sendiri yang mengacaukanku .

 

………………………..

 

Aku berjalan pelan dengan membenarkan letak syalku agar lebih menghangatkan leherku , sekarang sudah memasuki musim dingin dan ibu dengan begitu rajinnya mempersiapkan syal , sweeter ataupun jaket agar bisa kukenakan jika aku akan keluar rumah , termasuk kesekolah . Aku berbelok kesebuah gang yang biasanya aku lewati jika akan menuju halte bus yang berada beberapa blok dari sekolahku , namun langkahku langsung terhenti saat aku bisa mendengar suara pukulan dari jarak beberapa meter didepanku , kualihkan mataku dari syalku dan akhirnya menatap lurus kedepan yang langsung bisa menyaksikan adegan pukul memukul yang dilakukan oleh tiga orang melawan satu orang yang hampir ambruk karena ulah bengis mereka . Mulutku terbuka menyaksikan apa yang kulihat sampai aku sadar jika 4 orang yang berkelahi itu mengenakan pakaian yang sama denganku .

 

Aku semakin menegang ditempatku sampai aku sadar jika satu laki-laki yang dikeroyok oleh tiga orang lainnya adalah kakak tiriku . Changmin terdorong keras kesalah satu pagar tembok rumah penduduk saat salah satu yang menghajarnya mendorong keras tubuhnya ketembok itu . Darah segar mengalir dari sudut-sudut bibirnya yang masih bisa menunjukkan senyum sinis sesaat sebelum lelaki yang mendorongnya itu akhirnya mendaratkan satu pukulan menghajar rahang Changmin . Aku menutup mulutku melihat kejadian itu , kedua mataku berkaca dengan cepat saat melihat Changmin merosot turun dan terduduk lemah dijalan aspal yang dingin .

 

Kembali lelaki itu menarik kerah Changmin untuk memaksa Changmin berdiri lalu mendaratkan satu pukulan lagi menghajar pelipis Changmin dan sukses membuat kakak tiriku itu terjungkang . Aku gemetar ditempatku , kedua tanganku mengepal kuat karena begitu bingung dan panik . Apa yang harus ku lakukan ???

 

Saat Changmin masih mengerang kesakitan dijalanan , ketiga orang itu mengepungnya , lalu menyerang secara bersama-sama dengan menendang perut Changmin atau menghajar punggung kakak tiriku dengan alas keras sepatu mereka . Aku bisa mendengar erangan kesakitan Changmin yang membuatku air mataku serempak turun dari ujung kedua mataku . Aku menutup mataku kuat sebelum akhirnya membukanya lagi dan menelan ludahku dengan yakin , aku berlari cepat kearah mereka dan langsung mendorong salah satu diantara mereka yang membuat ketiganya terkejut karena kedatanganku .

 

“ A..a..apa..yang k.kalian lakukan ? “ tanyaku gemetar

 

Bisa kulihat mereka bertiga tampak terganggu dengan kehadiranku

 

“ a..a..ku..akan melaporkan k..kalian jika kalian tidak pergi..” ancamku ditengah usahaku menekan rasa takutku

 

“ p..per..pergi…”

 

Ketiganya tampak saling memandang sebelum akhirnya menatapku gerah

 

“ Per..pergi !!!! “ teriakku dan itu cukup membuat salah satu diantara mereka mengeluh kesal .

 

“ Aishh.. siapa anak perempuan ini ? “

 

Aku berusaha menatap mereka bertiga dengan tajam semampuku sampai akhirnya seseorang yang memiliki intensitas paling sering memukul Changmin mengedikkan bahunya . Dia memutar kepalanya untuk menatap Changmin sekilas sebelum tersenyum sinis . “ Itu pelajaran untukmu jika melawan kami “ ujarnya sinis

 

“ Ayo pergi~ “

 

Dia berjalan melewatiku dengan santai dan diikuti oleh dua orang yang berjalan dibelakangnya , aku masih terdiam ditempatku melihat Changmin yang tergeletak lemah dijalanan , suara nafas beratku yang naik turun menjadi suara satu-satunya yang terdengar . sampai akhirnya aku menyeret langkahku mendekati Changmin , seketika menggunakan kedua lututku untuk berdiri diatas aspal dingin ini dan langsung membangunkan tubuh lemah Changmin dengan mendudukkannya .

 

“op..oppa gwenchanayo ? “ tanyaku pelan

 

Tubuhnya melemas dengan bersender dilenganku yang mengelilingi bahunya untuk menahan tubuhnya , darah segar masih terus mengalir dari sudut bibirnya , bagian dalam mulutnya serta pelipis kirinya yang tampak robek . “ op..oppa…? “

 

Changmin membuka matanya dan membuat kedua mata kami bertemu , membuatku terkunci dalam mata teduhnya yang melemah , air mataku jatuh saat melihat ia mencoba berbicara dengan usaha kerasnya menahan rasa sakit yang menyerang .

 

“ k..kau menangisiku ? “

 

Aku hanya terdiam dan menatap sedih kearahnya , namun tiba-tiba Changmin mendorong tubuhku , mataku melebar mendapatkan aksinya saat dia berusaha duduk dengan usahanya sendiri . Changmin meludah untuk membuang sisa darah dimulutnya lalu mengusap kasar ujung bibirnya yang robek . “ op..oppa…”

 

Dia memaksa tubuhnya untuk berdiri dan bisa kudengar erangan tertahan namun tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berdiri tegak , kuikuti ia dengan ikut bangit dan masih menatapnya khawatir . Changmin tampak memeriksa wajahnya sendiri dan selalu berjengit kesakitan saat jarinya tepat menyentuh posisi lukanya . Aku membawa beberapa langkah mendekatinya sampai ia memalingkan wajahnya untuk menatapku .

 

“ A..aku..akan menelpon ibu , kita bisa kerumah sakit untuk mengobati lukamu oppa , kau … “ Secepat kilat mataku bergerak memeriksa wajahnya dan meringis saat menyadari wajahnya benar-benar babak belur akibat pukulan orang orang itu “ a..aku akan memanggil taksi oppa , k..kau tunggulah sebenar …” lanjutku

 

Aku memutar tubuhku untuk meninggalkan gang ini dan menuju jalan raya utama untuk memanggil taksi , namun belum benar-benar tubuhku memutar 360 derajat , tangan kuat Changmin telah menahan lenganku dan langsung memutar tubuhku agar kembali menghadapnya . “ jangan “

 

“ Nde .? “

 

“ Jangan telpon ibu dan jangan memanggil taksi “ balasnya pelan , kedua alisku menyatu karena bingung , aku hendak membuka suaraku lagi namun Changmin telah bersuara lebih dulu “ kau …”

 

Aku menulan ludahku menanti Changmin melanjutkan kalimatnya

 

“ ikut denganku , kita akan pulang sedikit terlambat “ lanjutnya lancar dan tanpa menunggu balasan dariku langsung saja Changmin menarik tanganku , memindahkan telapak tangannya dari lenganku dan mencari telapak tanganku , menggengamnya dan membawa langkahku bersamanya .

 

……………………………………..

 

Aku ikut mendudukkan tubuhku disebelah Changmin yang duduk disebuah bangku taman , sebelumnya aku pergi kesebuah toko yang berada tak jauh dekat sini untuk mencari es batu dan meminta tolong kepada pemilik toko untuk meminjamkanku handuk kecil yang telah dicelupkan kedalam air hangat .

 

Changmin memalingkan wajahnya kearahku dan langsung meraih cepat handuk hangat yang ada ditanganku , dia langsung menempelkan handuk itu diwajahnya tepatnya dibeberapa tempat yang mengalami luka cukup parah , setiap handuk hangat itu menyentuh lukanya sebanyak itulah Changmin berjengit .

 

Aku tidak tahan untuk tidak membawa tanganku menahan tangannya , menghentikan gerakan tangannya yang tidak sabaran untuk membersihkan lukanya sendiri “ Biar aku saja “ ujarku . Kedua alis tebalnya berkerut saat balas menatapku , tidak mau tenggelam lebih jauh didalam mata teduhnya , aku beralih untuk meraih handuk yang ada ditangannya , mengabaikan tatapan Changmin dan memfokuskan mataku pada luka-luka lebamnya dan mulai membersihkan dengan handuk hangat itu . Aku menekan pelan luka lebam yang ada diujung bibirnya untuk membersihkan darah yang mulai mengering dan menghitam , lalu beralih kebagian bawah matanya sampai dipelipisnya yang mulai membengkak .

 

“ Kau pernah berpacaran sebelumnya ? “

 

Gerakan tanganku terhenti seketika , menelan ludahku sesaat sebelum membawa mataku untuk bertemu pandang dengannya . Namun secepat kilat juga aku segera mengalihkan tatapanku saat Changmin benar-benar membalas menatap kedalam mataku , jantungku terasa seperti diremas saat menatap matanya sedekat ini . Aku tidak menjawab pertanyaan Changmin memilih untuk lebih menyibukkan diriku membersihkan lukanya yang sejujurnya saja wajahnya hampir telah bersih dari darah dan hanya menyisakan bekas ungu tua dibeberapa tempat .

 

“ Joohyun , kenapa tidak menjawab ? “ Changmin bertanya , nada suaranya terdengar datar “ Kau pernah punya pacar sebelumnya ? “ kali ini terdengar sedikit penekanan dipertanyaan yang ia ulang .

Aku menggeleng singkat sebelum akhirnya memilih untuk menghentikan kegiatan membersihkan wajahnya dan kembali duduk menghadap taman bermain yang ada didepan kami yang ada didalam taman ini . Aku sedikit menundukkan kepalaku membiarkan rambut lurusku jatuh menutupi sisi-sisi wajahku .

 

“ Bagus kalau begitu “

 

Aku menegang ditempatku dengan kedua mataku yang melebar saat tangan Changmin terjulur untuk menyingkirkan rambut yang menutupi salah satu sisi wajahku dan menyelipkannya kebelakang telingaku . “ Aku mengakui jika kau benar-benar polos dan itu cukup menarik “ Aku memilih untuk tetap mematung dari pada harus menoleh kearahnya dengan jari-jariku yang saling bertaut tegang . “ Joohyun~ah …”

 

Dadaku bisa meledak karena dia !

“ Hei Seo Joohyun~ aku memanggilmu “ ulang Changmin

 

Akhirnya mau tak mau aku memutar kepalaku kearahnya , bibirku mengatup keras dengan buku-buku jariku yang menegang . Dan bahuku jatuh lemas saat Changmin perlahan menunjukkan gelagat lengkungan dibibirnya sampai akhirnya benar-benar menyuguhkan satu senyum manis kearahku . Perutku terasa seperti dililit oleh sesuatu saat senyum itu seperti membiusku .

“ Baiklah~ Joohyun , sekarang kita bisa berteman “

 

……………………….

 

“ Aishhh , alasan apa yang harus kukarang nanti ? Ibu pasti akan mengerecokiku sampai aku memberitahu penyebab lukaku yang sebenarnya “ dumel Changmin disebelahku saat kami berdiri disebuah halte untuk menunggu bus yang akan membawa kami pulang . Sesekali aku mendengar dia mengumpat pada tiga orang teman sekelasnya yang menghajarnya itu , Changmin mengoceh dengan kecepatan luar biasa yang kutangkap jika ketiga orang itu tidak menyukainya yang bergabung diteam sepak bola sekolah , mengancam agar kakak tiriku itu mengundurkan diri karena ketiga orang itu berasumsi jika karena Changmin lah mereka tidak terpilih masuk kedalam team inti .

 

“ Kau punya ide untuk alasan yang kukarang nanti ? “ Changmin bertanya padaku membuatku sedikit terkejut karena sebelumnya hanya memilih menjadi pendengarnya saja . “ Ehmm..itu..katakan saja yang sejujurnya “

 

“ Mana bisa begitu ! Ibu sangat tidak suka aku berkelahi “ Changmin membalas cepat kearahku “ Kau bisa berbohong tidak ? “

 

“ Nde ? “

 

“ Jangan katakan apapun tentang perkelahian tadi , kunci mulutmu dan bersikap tidak mengetahui apapun , aku yang akan menghadapi ibu dan mengarang alasan sebisaku , kau mengerti ? “

 

Aku mengangguk pelan dibawah intimidasinya , terus menatap ujung kakiku sampai kurasakan tangan Changmin mengelus kepalaku . “ Joohyun~ sekarang kita sudah berteman , aku tidak akan lagi mengacuhkanmu dan kita harus saling membantu satu sama lain , jadi …”

 

Aku memutar mataku untuk mencari mata hitamnya agar bisa menatapnya . “ kau harus ada dipihakku nanti jika ibu tidak percaya pada alasanku “ tambahnya dengan satu senyum memohon . Belum sempat menanggapi apapun seperti mengangguk , Changmin telah tersadar jika bus yang kami tunggu akhirnya menepi dipinggir halte bus ini , kakak tiriku itu langsung saja meraih pergelangan tanganku dan membawaku naik kedalam bus dan memilih tempat paling belakang bus , bisa kudengar dia berucap pelan jika tempat dipaling belakang bus adalah tempat favoritnya .

 

…………………….

 

Sepertinya ucapan ibu tiriku yang mengatakan jika Changmin sebenarnya adalah orang yang menyenangkan itu benar , ibu sempat memberitahuku jika jangan pernah mengambil hati dengan sikap dingin Changmin saat pertama kali bertemu , dia hanya mencoba menilai orang lain yang baru ia kenal , sedikit bersikap sok acuh yang sejujurnya dia tengah menilai dan memperhatikanmu . Hanya menunggu kau akan menerima lampu hijau atau merah darinya yang akan menentukan posisimu dimatanya . Changmin hampir tidak berhenti mengeluh atau terkadang mengumpat , dia tidak berhenti menceritakan bagaimana ia bisa masuk kedalam team sepak bola sekolah dan tiba-tiba saja 3 orang yang menghajarnya itu mengintimidasinya hanya karena ia yang terpilih . Belum lagi kepanikannya untuk menyembunyikan luka lebamnya yang kurasa akan menimbulkan kecurigaan dari ibu .

 

Changmin sempat menyenggol lenganku meminta tanggapan namun yang kulakukan hanya tetap diam memilih menjadi pendengarnya yang baik . 20 menit terlewati tepat saat aku sadar jika ocehan Changmin telah berhenti sejak beberapa saat lalu , kualihkan tatapanku yang sebelumnya tengah asik menatap keluar jendela untuk mengeceknya , kudapati Changmin terduduk santai disebelahku namun dengan kedua tangannya yang bersedekap dan menutup matanya . Kepalanya sedikit tertunduk dan sedikit bergoyang mengikuti irama bus yang berjalan ini .

 

Aku terus menatap wajahnya yang penuh luka lebam , matanya terpejam tenang seolah menghilangkan rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan , aku terus menatap wajah Changmin sampai kusadari jika kepalanya bergerak kecil lalu dengan tiba-tiba yang cukup mengejutkanku , Changmin membawa kepalanya untuk bersender dibahuku dengan kedua matanya yang masih tertutup . Akibat kepalaku yang masih menoleh kearahnya membuat hidungku langsung menyapa pucuk kepalanya yang telah bersender tenang dibahu kiriku . Aroma rambutnya yang telah bercampur dengan bau amis darah menyapa cuping hidungku , membuat tubuhku kaku dengan kedua tangan yang mengepal bingung .

 

Aku menelan ludahku berat lalu dengan sesuatu yang kupaksakan aku mencoba menggerakkan bahuku “ o..oppa…” aku hendak mendorongnya namun Changmin menyingkirkan tanganku dan justru lebih memantapkan posisi kepalanya dibahuku . Kedua mataku melebar mendapatkan reaksinya ditambah saat dia bergerak nyaman disebelahku . “ Aku pinjam sebentar saja bahumu , aku benar-benar lelah Joohyun~ah “ ujar Changmin .

 

Pelan-pelan aku kembali menatap kedepan ,  mencoba mengatur detak jantungku yang tidak karuan dan merilekskan tubuhku yang sebelumnya mengaku akibat ulah Changmin . Aku menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya tubuhku benar-benar santai . “ Ini jauh lebih baik “ Changmin berujar pelan disebelahku dengan kedua matanya yang masih tertutup sampai kudengar hembusan nafas teratur darinya .

 

Tidurlah sebentar kalau begitu .

 

…………………….

 

Aku benar-benar mendapatkan lampu hijau itu dari Changmin , tidak ada lagi yang namanya ‘ mengacuhkan Seo Joohyun’ dikamus Changmin . Kami hampir tidak pernah melewatkan satu haripun berangkat atau pulang sekolah bersama . Bahkan saat kakak tiriku itu harus pulang sedikit terlambat karena latihan sepak bolanya , Changmin memaksa agar aku harus menunggunya karena kami harus selalu pulang bersama .

 

Dia selalu menghabiskan waktu istirahatnya bersamaku yang selalu berada diperpustakaan dari pada harus kehalaman sekolah atau kekanteen berkumpul bersama teman sekelas . Sejujurnya saja beberapa siswi yang ada dikelasku mulai mau mengajakku berkumpul bersama mereka , namun aku tahu jika mereka melakukan itu sejak tahu aku adalah adik tiri dari Changmin . Kakak tiriku itu cukup populer disekolah kami dan tentu saja maksud mereka mengajakku berkumpul bersama mereka adalah untuk mengorek informasi tentang Changmin .

 

Perpustakan jauh dan sangat jauh lebih menyenangkan dari pada aku harus menghabiskan waktu bersama siswi-siswi genit itu .

“ Kau sesekali harus membaca buku ini Joohyun~ah “

 

Aku menoleh untuk menatap Changmin yang ikut duduk disebelahku , dia menyerahkan buku bersampul pink yang tidak memiliki halaman yang begitu tebal .

“ Kau harus mengenal apa itu artinya perasaan ‘menyukai seseorang’ atau ‘mencintai seseorang’

 

Aku meraih buku itu dan menatapnya sesaat . “ Aku tidak pernah membaca buku seperti ini “ aku membalasnya . Changmin melemparkan senyum gelinya kearahku sebelum mengambil buku itu kembali dan membuka halaman  pertama dari buku itu , dia menatapku sekilas dengan senyum penuh arti dan langsung membuatku bingung saat Changmin mengambil buku psikologi yang kubaca sebelumnya . Changmin meletakkan buku berwarna pink itu tepat didepanku .

“ Baca itu mulai sekarang “

 

“ Nde ? “

 

“ Mulailah membaca buku itu

 

“ Tapi aku..”

 

“ Hanya karena kau tidak pernah membacanya bukan berarti tidak bagus untuk dibaca bukan ? Cobalah membaca satu tema baru Joohyun “ Aku masih mengernyit bingung memandang halaman pertama buku ini lalu kembali menatap Changmin yang masih bertahan menampilkan satu senyum manisnya . “ Aku baru selesai membaca buku itu “ ujarnya , membuang nafas sesaat sebelum dia menggaruk pelan belakang lehernya “ cukup berterima kasih pada buku itu karena sekarang aku mengerti apa yang mengangguku beberapa hari ini “

 

Aku semakin mengernyit dengan menaikkan sebelah alisku yang dibalas kedikkan bahu dari Changmin “Kau  harus membacanya sendiri “

Namja itu bangkit dari kursinya , mengusap kepalaku sebentar sebelum akhirnya berjalan meninggalkanku dan mengabaikan beberapa cekikikan dari siswi-siswi yang terus menatapnya saat ia berjalan keluar dari perpustakaan .

 

……………………….

 

“ Apa harapan terbesarmu saat ini oppa ? “

 

Aku bertanya pada Changmin saat kami berdua duduk saling menyenderkan punggung kami dihalaman belakang Sekolah , kuhentikan sesaat aktifitas membacaku lalu menggerakkan kepalaku dengan menyundul pelan kepala Changmin .

“ Kenapa tiba-tiba bertanya tentang itu ? “ tanyanya

 

“ Hanya ingin tahu saja “

Sempat terjadi beberapa jeda kesunyian sebelum akhirnya Changmin semakin merilekskan kepalanya dia kepalaku “ Keinginanku ….”

 

“ Apa kau menyayangi ayahmu Joohyun ? “

 

“ Nde ? “

 

“ Jawab saja~ “

 

“ Ehmm..tentu saja “ balasku bingung

 

“ Begitu ya~ aku tidak tahu apakah ada sesuatu yang salah denganku , mungkin seharusnya aku membenci ayah kandungku yang sudah meninggalkanku dan ibuku begitu saja , tapi …. “

 

“ tapi aku tetap ingin melihatnya … ibuku benar-benar membenci ayahku namun hal itu tidak mempengaruhiku yang benar-benar ingin bertemu dengannya , banyak yang ingin kutanyakan padanya~ apa alasannya meninggalkan kami ? Apa sama sekali dia tidak memiliki rasa sayang padaku ? Atau tidak ingin tahukah ia kabar anak laki-lakinya sekarang ? Aku benar-benar ingin bertanya langsung padanya “

 

“ Hanya sekali saja aku ingin bertemu dengannya Joohyun , aku tidak akan menuntut apapun darinya tapi aku ingin kami saling berbagi cerita selama banyaknya waktu yang hilang saat dia memutuskan pergi untuk meninggalkanku dan ibu , aku berjanji aku tidak akan membencinya atau marah padanya , cukup bertemu maka aku tidak akan merasa penasaran lagi “

 

………………….

 

Seminggu sebelum ujian kelulusan Changmin oppa , harapan kakak tiriku itu menjadi kenyataan . Harapan terbesarnya yang dia ucapkan 2 bulan lalu itu akhirnya benar-benar terjadi saat seorang pria yang tingginya tidak jauh beda dengan tinggi badan ayahku mengunjungi rumah keluarga kami dan mengaku jika ia adalah ayah kandung Changmin .

Dia baru kembali dari Jepang setelah hampir 15 tahun menetap disana dan membangun keluarga baru disana . Saat ia pulang ke Korea untuk dua bulan ini , tujuannya adalah mencari anak laki-lakinya yang sempat ia tinggalkan .

 

Aku cukup terkejut saat menyaksikan ibu tiriku memaki kuat ayah kandung Changmin yang memaksa untuk mengajak Changmin berbicara berdua saja . Mengajaknya pergi sebentar untuk menghabiskan waktu bersama . Ibu terlihat sangat kalut saat ayah kandung Changmin tetap memohon agar ibu mengijinkan Changmin pergi bersamanya sebentar . Jika tidak ada ayahku yang menjadi penengah diantara mereka aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh bibi pada pria itu .

 

Suasana semakin kacau saat Changmin berjalan melewatiku dan bergabung dalam pembicaraan orang dewasa itu , dia menatap ibu dengan pandangan meminta maaf sebelum berucap “ Aku akan pergi dengannya eomma , hanya sebentar saja . Banyak yang ingin kutanyakan padanya “

 

Ibu seketika terisak kuat saat Changmin memberikan isyarat pada ayah kandungnya untuk berjalan keluar dari rumah mengikutinya . Ayahku segera menuntun ibu untuk duduk yang terlihat cukup terpukul mendapati sikap Changmin . Aku membawa langkahku hati-hati kepintu depan dan mengintip keluar saat Changmin masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh ayah kandungnya

 

…………………………

 

Aku menekan dengan terburu-buru tombol hijau pada keypead handphone ku untuk menjawab panggilan dari Changmin .

“ Yoboseyo ? Oppa ? “

 

“ Cepat sekali kau mengangkatnya “

 

“ Oppa dimana ? Masih bersama ayah oppa ? “ aku bertanya khawatir saat mendengar nada tidak bersemangat darinya

 

“ Ne~ “

 

“ Oppa baik-baik saja ? “

 

“ Joohyun …..”

 

“ Hmm…”

 

“ Dia mengajakku untuk ikut dengannya , ayahku mengajakku jika aku mau ikut dengannya pulang ke Jepang saat dua bulan masa tugasnya di Korea berakhir “

 

Tubuhku mematung bersamaan dengan hembusan nafas berat yang terdengar disebrang telponku . Lidahku entah kenapa terasa kelu yang membuatku sedikit sulit berbicara untuk menanggapi ucapan Changmin .

 

“ Aku harus bagaimana Joohyun ? Ayahku mengatakan jika aku tidak perlu benar-benar pindah bersamanya~ hanya mungkin melanjutkan kuliah disana dan saat lulus aku bisa kembali lagi ke Korea , ayah ingin menebus apa yang tidak bisa ia berikan selama aku tumbuh saat dia tidak ada “

 

Aku merasa sangat konyol saat satu bulir hangat meluncur pelan dari pipiku yang membuat tanganku dengan cepat menghapusnya , aku perlu menelan ludahku sesaat sebelum memutuskan berbicara dan sangat berharap suaraku tidak akan terdengar aneh “ Se..semuanya ada ditangan oppa , oppa sendiri yang bisa memutuskannya . Jika oppa merasa itu benar maka lakukan tapi jika tidak jangan pernah memikirkannya lagi “

 

Mungkin sekitar 30 detik kediaman menyelubungi kami sebelum akhirnya tarikan nafas mantap terdengar diujung telponku . “ Aku mengerti , aku harus kembali menghampiri ayahku . Sampai nanti Joohyun “

 

Aku hendak berbicara lagi namun Changmin telah menutup telponnya lebih dulu . entah kenapa satu kehampaan menghampirku seketika , aku menggigit bibirku menahan panik saat satu pemikiran menghampiriku . Bagaimana jika Changmin pada akhirnya memutuskan untuk ikut dengan ayahnya ? Bagaimana jika ia menyetujui ide ayahnya ?

Kedua tanganku mengepal keras sambil menggeleng menyesal , seharusnya aku bisa lebih bersikap egois dengan mengatakan ‘tidak’ atau kalau perlu terang-terangan meminta Changmin untuk menolak tawaran ayahnya agar dia tetap tinggal bersama kami . Aku mengerang sesak karena kebodohanku sendiri . Bagaimana jika ia benar-benar akan pergi bersama ayahnya ? Bahkan saat satu perasaan konyol yang baru saja kusadari saat tiga hari lalu aku selesai membaca buku yang diberikan oleh Changmin , aku tidak ingin melepasnya saat perasaanku itu semakin bersikap arrogant menguasai hatiku yang bertaut pada kakak tiriku sendiri .

 

………………………………

 

Ayah sudah benar-benar menyerah untuk memaksaku masuk kedalam rumah yang masih setia menunggu Changmin pulang sejak dia pergi bersama ayahnya . Aku melirik jam diponselku yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan seketika mengutuk pelan ayah kandung Changmin yang tidak kunjung mengantar pulang kakak tiriku itu . Kurapatkan jaketku karena angin malam yang semakin menusuk-nusuk kulitku seperti ujung-ujung pisau yang dingin namun tajam .

 

Aku beralih menggosok kedua telapak tanganku lalu meniupkan uap hangat ketelapak tanganku sendiri . Saat terdengar suara mesin mobil yang berhenti didepan pagar rumah keluargaku aku segera menoleh . Aku memperhatikan dengan seksama saat ayah Changmin keluar dari mobil dan disusul oleh Changmin , kulihat pria itu menepuk bahu Changmin lalu mengusap kepalanya . Tidak bisa mendengar apa yang diucapkannya yang kulihat hanyalah jika Changmin mengangguk kecil .

Akhirnya ayah kandung Changmin kembali masuk kedalam mobilnya dan tidak lama kemudian kembali menjalankan mobilnya .

 

Aku masih terdiam ditempatku menunggu kedatangan Changmin sampai akhirnya kakak tiriku itu telah berdiri beberapa langkah dari tempatku yang menunggunya diteras rumah .Kulihat satu ekspresi keterkejutan diwajahnya karena kehadiranku

“ Joohyun ? Kenapa diluar ? “ tanyanya .

 

“ Itu..aku….”

 

“ Lebih baik kita masuk , diluar dingin, kau bisa..“

 

“ Oppa tidak apa-apa ? “ tanyaku memotong kalimatnya

 

“ Huh ? “

 

“ Ekspresimu membuatku khawatir oppa , kau baik-baik saja ? “ aku bertanya sambil melangkah kearahnya . Aku mengigit bibir bawahku khawatir jika ia akan mengatakan ‘tidak’ yang menunjukkan jika ia sedang tidak baik-baik saja .

 

Namun sebuah senyum lelah justru menghiasi wajahnya yang membuat bahuku sedikit melemas , Changmin mengusap kepalaku lembut sebelum akhirnya tangannya turun untuk meremas bahu kiriku “ Aku tidak apa-apa Joohyun~ ayo lebih baik kita masuk , bibirmu mulai membiru “

 

Aku menahan tangan Changmin cepat saat dia hendak melewatiku , aku kembali menatapnya yakin dan memberanikan diriku untuk menanyakan satu hal padanya “Kau menyetujui ide ayahmu ? Oppa akan ikut dia ke Jepang ? “

 

Sebuah kerutan tipis muncul dikedua alis Changmin , aku terus melemparkan satu tatapan menuntut agar dia menjawab pertanyaanku tapi kakak tiriku ini justru menyingkirkan tanganku pelan yang masih menahan lengannya “ Kita bicarakan besok saja ya ? Ini sudah malam Joohyun , kau bisa mati kedinginan jika diluar terus , ayo masuk “

 

Changmin berjalan meninggalkanku lebih dulu, membuatku menatap hampa punggungnya yang semakin jauh . Sampai akhirnya satu pemikiran mengalahkan akal sehatku dengan membuat kedua kakiku berjalan cepat menyusulnya dan tepat saat dia memegang handel pintu depan saat itulah aku menahan Changmin dengan memeluk tubuhnya . Memeluknya dari belakang dengan menempelkan sisi wajahku dipunggunya yang lembab . Menggunakan kedua lenganku mengelilingi pinggangnya dan mengurungnya didalam lingkaran tanganku .

 

“ J..jangan pergi bersama ayahmu “ aku berucap pelan , suara tercekat yang pernah kukeluarkan selama aku bernafas . Tubuh Changmin mengaku didalam lingkaran tanganku .

“ Tetap disini oppa , tetap bersama kami . Jangan pergi dengan ayahmu kumohon “

 

“ Aku akan besikap egois untuk kali ini , aku bukan si pengalah Seo Joohyun lagi , dengarkan aku dan jangan pergi kemanapun “ aku mengeratkan lingkaran tanganku dipinggangnya .

 

“ Kau milik ibu , aku dan ayahku sekarang oppa , maaf jika aku egois tapi aku akan tetap melarangmu pergi “ aku akhirnya menangis pelan dan bergetar dibelakang punggungnya , terus mengencangkan lingkarang kedua tanganku sampai kusadari jika jari jari Changmin mengelus pelan punggung telapak tanganku .

 

FLASHBACK ENDS

 

2013

 

Apa nafasku terlalu mencolok terdengar naik turun ? Aku berusaha mengalihkan kontak mata kami namun yang terjadi aku semakin tenggelam dikedua bola matanya yang pekat . Rasanya ingin menangis ataupun berteriak , mengakui semua rasa yang kutahan dan kusimpan untuknya selama ini . Tapi itu tidak mungkin …aku harus menemui jalan buntu berupa tembok besar yang bertuliskan ‘kalian bersaudara’ . Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengalah dan terus menahan atau jauh lebih menyakitkan lagi mengubur perasaanku padanya .

 

“ Joohyun..kita…”

 

Aku menelan ludahku berat , mengedip cepat dan merasakan perutku terasa dililit menanti kalimat apa yang akan ia keluarkan .

 

“ Kita….kau dan aku ..”

 

Kedua tanganku yang mencengkram sisi-sisi bajuku melemas tiba-tiba saat Changmin justru mengalihkan kedua matanya dengan cepat , memutuskan kontak mata kami dan bisa kudengar ia membuang nafasnya lelah . Gurat wajahnya tergambar jelas menunjukkan usahanya untuk menahan dirinya . Dadaku menyempit sesak melihatnya , apakah dia sama tersiksanya denganku ?

 

“ Memang lebih baik aku pulang “

 

“ Nde ? “

 

“ Kau istirahatlah , aku pulang saja “ jawabnya cepat . Belum sempat membalas mengucapkan apapun , Changmin telah berbalik , berjalan kepintu depan dengan langkah lebarnya meninggalkanku yang mematung sesaat . Aku mengedip cepat karena sadar akan situasiku . Entah apa yang membuat kakiku justru melangkah menuju pintu depan hendak menyusulnya . Aku membuka cepat pintu depan rumahku dan sudah mendapati Changmin telah menyebrangi halaman kecil rumahku untuk menuju kemobilnya yang terparkir diluar pagar rumahku .

 

“ Oppa !! “ panggilku keras

 

Aku bertahan ditempatku menyaksikan saat Changmin berhenti sesaat dihalaman rumahku dan membalikkan tubuhnya pelan .

 

“ Oppa mianhae….” ucapku sangat pelan yang aku sendiri tidak yakin apakah Changmin mendengar kalimatku barusan .

 

Kami saling menatap selama beberapa saat sampai kubaca ekspresi menyerah diwajah Changmin , dia mengumpat pelan dan berjalan cepat kembali kearahku . “ Aku tidak peduli lagi Seo Joohyun ! “

 

Kedua matanya mengunciku membuatku tidak bisa beranjak dari tempatku , terus terdiam sampai akhirnya Changmin sampai didepanku dan tidak peduli apapun lagi dia menarik kedua lenganku dan membawa tubuhku kearahnya , begitu cepat sampai aku sadar bibirnya mendarat kasar dibibirku , cukup terkejut sampai yang kulakukan hanya terus melotot dan mengepalkan kedua tanganku kuat . Perlahan ciumannya mulai melembut yang berefek fatal pada tubuhku . Punggungku meremang hebat ditambah perutku yang terasa diremas dengan kedua kaki yang seolah tidak sanggup menopang berat tubuhku .

 

Sesaat sensasi itu hilang karena tiba-tiba Changmin melepaskan kontak bibir kami , kedua tangannya berpindah menyentuh kedua pipiku dan mengelusnya lembut “ Kita saling mencintai Joohyun~ah , aku hampir mati karena kupikir aku tidak bisa mengatakan hal ini “ bisiknya didepan wajahku

 

Kembali ia meraub bibirku namun jauh lebih lembut , aku tahu aku tidak bisa menolak lagi karena yang kulakukan adalah memejamkan kedua mataku . Mulai membalas kecupannya sebisaku dan kusadari Changmin menanggapinya dengan cepat . Kedua tangannya turun dan beralih memeluk pinggangku , membuat tubuhku benar-benar menempel padanya yang refleks membawa kedua tanganku mengalung dilehernya . Kecupan kecupan kecil itu berganti menjadi lebih intim , Membuat kami tenggelam dalam satu perasaan yang menguap setelah hampir 6 tahun kami tahan dengan banyak rasa sakit yang kami rasakan .

 

Aku meremas jas yang Changmin pakai saat ia menghembuskan nafas berat lewat celah bibir kami yang masih intens bertemu , dan saat wajah ayahku dan ibu tiriku melintas dipikiranku tepat saat itu kedua mataku terbuka , refleks kudorong pelan dada Changmin memutuskan lembut kontak bibir kami , nafas beratku menabrak wajah Changmin yang masih berada dalam jarak dekat dengan wajahku . Aku menggeleng pelan bersamaan dengan bulir hangat yang menerobos keluar dari ujung pelupuk mataku , berusaha melepaskan pelukan Changmin namun namja itu tetap bertahan menahanku .

 

“ K..kita…kita tidak akan bisa o..oppa…” aku tercekat

 

Kuberanikan diriku untuk menatap wajah Changmin , bibirku bergetar untuk menuntun lidahku melanjutkan kalimatku “ i..ni tidak boleh….k..kau dan aku…k..kita tidak boleh…”

 

“ Joohyun…”

 

Aku menggeleng cepat dengan aliran air mataku yang semakin deras , merasa ingin membunuh diriku sendiri karena sepertinya mati jauh lebih baik dari pada aku harus mengatakan kenyataan yang sebenarnya , membuat diri kami sadar jika semua ini salah

 

“ ..tidak boleh…k..kita bersaudara..oppa ini salah …”

 

TBC

 

Bener dehhhhhh….gue sebenernya cuman mau buat oneshoot , tapi jadinya imajinasi malah jalan kemana-mana -____- . FF ini buat orang-orang yang ngerequest cerita ChangSeo ke gue hehehe . Dan sepertinya ga jadi cerita oneshoot ga papa ya~ twoshoots mungkin ini atau justru treeshoots (??) kkkkk~

 

Dan yang nungguin MHP mohon kesabarannya lagi ya^^~ lagi dalam pengerjaan pengetikan kok , kemarin kemarin mood sempet hancur gara-gara banyak fans SeoKyu yang nyerang gue hehe~

Oke dah~ semoga suka ceritanya❤

 

 

 

87 thoughts on “DON’T BE MY STEPBROTHER – CONFESSION

  1. huuu…kasihan sma mrk bnr2 mencintai tp hrus terganjal ma “status” sedih fell nya dapt bngt… gw pikir changmin tdk menyukai seo ternyata..ahhh so sweet..
    hrus happy ending tp ttp hrus wajar jngn memaksakan mrk bersatu klo tdk bersatu *biar ngarep mrk bersatu* heheheh

  2. waduh… Ada ff bru nih…. Tmbn bngt bca yg cast’a changseo….. Crtny rmt banget nihhhh,, cinta terlarang. Dtngg klnjtnny ya……
    MHP’a jga dtnggu ya….. Itu ff favorit aq sih…..
    Author’a mang daebakkkkkkk…….

  3. seringnya baca ff seokyu, dan ini pertama kalinya aku baca ff yang main cast namja nya changmin oppa yang di pasangin sm seo eonni,,,,
    seru eonni ceritanya,,,
    aku tunggu eonni MHP nya ^^
    seokyu jjang !!!

  4. Ini akir y bakal gmn yah? Sad ending kah buat changseo? Andweeeee mrk saling cinta bgt ky y! Ditunggu lanjutan y sist! MHP ttp fav ku🙂 wkwkwkwkwk

  5. Aigo~
    saia ini wires akut.
    Tp kalo baca ff anyseo karya eonni,feel.a pastii dapet banget.
    Misalnya unaware,dan satu lagi ini.

    Sumpah ini nyesek bangett.
    Jadi sbnrnya changmin duluan yg suka seo?
    Kan dia yg bc bku buat tau kejelasan perasaannya?

    Spechless,ini daebak banget!
    Berharap happy end.
    Q kira MHP dipost pas valentine. . .
    Aq sabar pake banget kalo udah nyangkut nunggu ffmu,eon.
    Hwaiting!

  6. gak ikhlas sumpah.. knp takdirnyaa mreka begini…
    please changseony di satuin ya.. trus jgn sad ending.. bc ini aj udah mewek gmn kalo sad ending.. ga bakal trima aku hehee.. pease,,

    ayoo di lanjutin sgera ya..🙂

  7. Akhirnya cerita changseo muncul juga,tp sekalinya muncul tragis, saudara tiri?
    Ok, di part 1 banyak nebak-nebak. Sebenernya si min naksir seo and brusaha narik perhatian seo tiap kali mereka berinteraksi tp sialnya si seo antenanya kurang tinggi,jd gak bs nangkep sinyal yg dikirim max,bgtu?
    Ditunggu FF mana aja yg mw dipublish duluan(oh…sebenernya penasaran sm lanjutan unaware,apa seo bakal hamil?)

  8. horeeee akhirnya ada jg ceerita ttg changseo!! smg gak sad ending yah ceritanya..
    agak gemes sm sifatnya seohyun di FF ini, ahahahaha… tp overall ceritanya gampang di bayangin.. lanjutkan chingu.. ditunggu jg lanjutan cerita unware-nya.. hehehehe🙂

  9. Ahh akhirnya nemu ff changseo
    aku suka ff ini apalagi buatan author , penggambarannya trs kalimatnya itu lho yang bikin suka baca ff author🙂 kyk bneran gitu
    happy ending yah😉
    cepet publish kelanjutanya , jebball authorr cepet publish yaa

  10. wah, changseo ff
    moga bkn sad ending
    sygnya gak ada changmin pov, biar lbh trsa feelnya^^
    tp crtnya daebak
    fighting eonni!

  11. Saengi jangan marah ya baca judul FF ini agak buat saya malas bacanya coz bukan fans mereka ngertikan saya lbh suka Seo dgn “kawannya” changmin he..tp karena 1 dan lain hal bolak-balik nunggu MHP 11 belum ada jg bacalah FF ini aigoo dak nyangka siapa pun pairingny ceritany memang daebak feelny ngerasa sesak bgt so saya menikmati banget apalagi waktu changmin confess omo…so sweet bgt
    D tunggu next partnya. Gomawo

  12. Suka banget cerita ini tapi jgn lama2 ya kelanjutannya. Btw, syarat minta pwt utk unaware apa yach…pnsrn aq sama chap 1. Bisa tolong dibantu prok prok prok

  13. Ping-balik: DON’T BE MY STEPBROTHER – FINISH | Just Follow My Rule

  14. DAMN! Ini cerita keren pake banget! d^_^b
    Aku baru nemuin FF ChangSeo yang dahsyat bahayanya bagi emosi pembaca, ya di sini.
    How come this story so touchy?? Author chingu keren mentereng deh😉
    Jadi ikut berpikir, gimana kalo ada di posisi ChangSeo, keputusan apa yang harus diambil. Penuh pergolakan batin deh, karna bukan hal yang mudah pastinya.
    Well, semoga di chapter selanjutnya, tetap bisa ditemukan nilai-nilai tersembunyi yang bisa jadi pembelajaran🙂
    Mencintai dan dicintai, bukan perkara suka saja tapi pula ada suka.
    Semangat berkarya, author chingu ^^9

  15. DAMN! Ini cerita keren pake banget! d^_^b
    Aku baru nemuin FF ChangSeo yang dahsyat bahayanya bagi emosi pembaca, ya di sini.
    How come this story so touchy?? Author chingu keren mentereng deh😉
    Jadi ikut berpikir, gimana kalo ada di posisi ChangSeo, keputusan apa yang harus diambil. Penuh pergolakan batin deh, karna bukan hal yang mudah pastinya.
    Well, semoga di chapter selanjutnya, tetap bisa ditemukan nilai-nilai tersembunyi yang bisa jadi pembelajaran🙂
    Mencintai dan dicintai, bukan perkara suka saja tapi pula ada duka.
    Semangat berkarya, author chingu ^^9

  16. Tnpa sengaja nemu ff ini… Baguss ff nya feel nya dpet, Kasihan Changseo Hnya Karna Dinding persaudaraan mereka harus mengenyahkan rasa suka mereka, Daebakkkk dh!’

  17. bnr2 cinta yg rumit.
    brtny2 dr sekian bnyk cwok & cwek d skliling changseo knp hrs tmbh cinta trlrng.mgkn tulh tkdir.feelx bnr2 trs bnget seolh2 q msk dlm crtx sbg penonton.
    smkn cinta sm changseo

  18. bnr2 cinta yg rumit.
    brtny2 dr sekian bnyk cwok & cwek d sklilingx knp hrs tmbh cinta trlrng?mgkn tulh tkdir.
    feelx bnr2 trs bnget seolh2 q msk dlm crtx.
    smkn cinta sm changseo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s